RSS

Melalui Makanan, Aku Mengingatmu

“dari awal, ibuku memulai wiraswasta jual sate ayam. Satu-satunya sate yang gak pernah bosen aku makan tiap hari slama 17 tahun.” (E. Vivian Irianti | @elisabetvivian)

——-00——-

“Mie ayam ter-enak yang pernah ditemuinya, katanya.”

Mie ayam jamur adalah menu di saat kami “ngopi darat” untuk pertama kalinya. Ia jauh-jauh datang ke rumah saya di daerah Minggir. Tiba-tiba ia bilang ia lapar. Waduh, makan apa ya? Pikir saya dalam hati. Bingung sekali. Lalu spontan saya merekomendasikan warung mie ayam jamur dekat rumah. Tanpa diduga lidah calon pacar saya kala itu sangat terpikat dengan rasa mie ayam yang tidak sesederhana warungnya. Mie ayam terenak yang pernah ditemuinya, katanya.

Saya senang sekali. Pilihan kuliner saya tidak salah. Setelah jadian, kami sering  mampir makan mie ayam jamur. Pacar saya menyebutnya mie ayam jamur Minggir. Sayang, sekarang kami sedang long distance relationship. Ia bekerja di luar kota. Rindu sekali makan bersamanya. Menikmati mie ayam jamur enak, mengenyangkan, tapi tidak menguras dompet kami. Hahaha. Makan dan berkencan sekaligus, tak harus mahal kan? (Adriana Andang Gitasari, 21th, Mahasiswi)

——-00——-

“tiap kali kamu berkunjung ke Jogja, pasti maem nasgor sapi depan SMA 3 walopun udah gak sama aku.” (Badar Kurniawan | @badar2000)

——-00——-

“Tidak ada yang spesial di daerah Cisaladah Jatinangor, kecuali dia (mantan) dan Warung Pecel Lamongan.”

Tidak ada yang spesial di daerah Cisaladah Jatinangor, kecuali dia (mantan) dan Warung Pecel Lamongan yang menjadi tempat makan favorit kita dulu semasa bersama. Dia selalu memesan pecel ayam bumbu rica, dan saya memilih pecel lele dengan sambal khasnya. Kadang untuk menghilangkan bosan, dia memesan soto ayam dengan sambal yg berbeda. Yang menjadikan tempat ini spesial karena saya tidak pernah makan ditempat ini sendiri, melainkan selalu bersama dia (mantan). Teringat, hanya karena kita ingin mengingat tempat tersebut, tengah malam kita makan disitu setelah kelulusan D3. Lama berselang, setelah kita melanjutkan S1 di Dago, malam itu kembali dengan rentang waktu hampir 1 tahun, dan bapak penjual pecel itu lembut berkata, “kalian kemana? Saya sangat kehilangan”. Karena terlalu sering dia ingat muka kita berdua. Lalu, semua berlalu dan kini aku sudah tidak bersamanya karena perbedaan keyakinan bukan makanan. Tak sengaja, malam itu aku berkunjung ke Jatinangor dan entah kenapa, aku tiba-tiba ingin makan pecel di warung itu, dan aku ketempat itu, bapak itu melihatku dengan cermat sembari menyiapkan menu pesananku, pecel ayam, sesaat dia menghampiriku dan bertanya,”mas, kemana aja, kok sendiri? Mbak nya mana? Aku terdiam, dan berkata dalam hati, “dimana ia? Aku sangat kehilangan.” (Agung A.N, 24th, Mahasiswa)

——-00——-

1                                                                              2                                                               next page

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: