RSS

Monthly Archives: October 2011

TOAST (2010): Sepotong Cinta Untuk Yang Terkasih

Freddie Highmore berperan dalam salah satu adegan Toast, film yang berdasarkan memoir seorang penulis makanan British, Nigel Slater

Oleh: Corry Elyda

Makanan adalah hal yang tak hanya sangat dekat dengan kita namun juga penting. Bagi sebagian orang, makanan mungkin tak lebih dari sekedar penyedia energi untuk beraktifitas. Beberapa lainnya menganggap makanan sebagai gaya hidup. Sebagian lainnya ada yang menganggap bagian dari filosofi hidup, terutama bila menyangkut penganut agama tertentu. selengkapnya

Advertisements
 
3 Comments

Posted by on October 27, 2011 in Film&Food, Uncategorized

 

Tags: , ,

Hercules: Alternatif yang Tak Sekedar Perkasa

Oleh: Ratri Indraswari

Siang itu, Pogung Raya menampakkan barisan-barisan mahasiswa yang memenuhi ruangan dan sudut warung makan. Sudah menjadi kebiasaan bahwa saat makan siang adalah saat dimana para mahasiswa keluar dari persembunyian mereka untuk berbondong-bondong antri mendapatkan sepiring nasi beserta lauk pauknya. Jika salah satu warung penuh, maka warung lainnya pun siap mereka datangi untuk mengisi perut.

gulai ikan tuna

Daerah Pogung Raya yang terletak di sudut utara Yogyakarta memang menjadi langganan mahasiswa untuk tempat tinggal sementara (kost). Maklum, daerah ini dekat dengan perguruan tinggi bonafit dan termahsyur se-Indonesia, yaitu Universitas Gadjah Mada. Tak mengherankan apabila di antara gang-gang Pogung terdapat bermacam-macam warung makan yang tersedia. Ada warung penyetan yang biasa menyediakan menu ayam, ikan, tempe, tahu, baik digoreng atau dibakar berikut dengan sambal. Ada juga warung yang memilih menyediakan menu masakan rumahan seperti sayur bayam, sayur sop, oseng-oseng daun singkong, oseng-oseng kangkung, telur ceplok atau ayam goreng. Warung makan yang biasa disebut warung prasmanan ini lebih dominan dan lebih diminati oleh mahasiswa karena mereka bisa langsung memilih dan mengambil menu yang mereka suka. Tak lupa ada satu tempat yang juga paling diminati mahasiswa yaitu Burjo, singkatan dari bubur kacang ijo (hijau: ijo). Sebutan Burjo dimaksudkan untuk warung yang menjual bubur kacang hijau lengkap dengan santan dan ketan hitamnya. Namun seiring berjalannya waktu, tempat ini menjadi tempat wajib di kalangan mahasiswa karena Burjo mulai menjual berbagai menu instant alias mudah dimasak dan cepat tersaji seperti mie rebus atau goreng, kombinasi telur dadar dan sambal orek tempe, gorengan pisang, tahu, tempe, bakwan yang selalu ada. Bahkan saat ini, telah tersedia menu ayam goreng, nasi goreng yang tentu saja sangat bisa mengisi perut. Keunggulan Burjo disamping harganya yang relatif murah, terletak pada jam operasionalnya yang buka hingga 24 jam non stop. Inilah mengapa Burjo selalu saja didatangi oleh mahasiswa-mahasiswa baik dijam sibuk maupun jam tidur.

Namun, jika Anda merasa bosan dengan pilihan-pilihan yang ada, tak salah juga jika Anda mulai mencari alternatif tempat makan di kawasan ini. Salah satu Sobat Spatula kami pernah mengunjungi sebuah tempat makan yang tidak biasa, yaitu Hercules. Apa itu? Dengan berbaik hati, ia memberikan ulasannya supaya dapat dijadikan bahan alternatif dalam memilih tempat makan di bilangan Pogung Raya. Berikut ulasannya, semoga bermanfaat.

Hercules, merupakan warung makan spesialis ikan tuna. Warung ini sepertinya sudah terkenal hingga pelosok-pelosok kost se-Pogung Raya, Yogyakarta. Terbukti ada banyak foto pemilik warung dengan orang yang sepertinya terkenal. Menu utama yang menjadi andalan warung ini adalah pepes ikan tuna. Pepes disajikan dengan baluran bumbu lombok ijo, jaaaan.. enak tenan. Pepes ikan tuna yang dibalur bumbu lombok ijo ini selain rasa yang mantap namun juga memiliki rasa pedas yang menambah kualitas rasa. Sebelum disajikan, pepes dipanggang terlebih dahulu. Selain pepes, tersedia pula tuna asam pedas, telur tuna, gulai ikan tuna, dan tentunya masih banyak lagi. Setiap sajian akan diberi sambal segar dan sepiring sayur kangkung.

pepes tuna beserta lalapan

Buat yang suka berkuah dan murah, saya merekomendasikan tuna asam pedas. Rasanya? Yang masih kepet (Jawa: belum mandi) rasanya sesegar habis mandi. Jadi, kalau air pam mati dan ga’ sempet mandi, kesini saja numpang mandi! Kidding mas n mbak`e…

Buat yang tidak memiliki keberanian memakan daging tuna, tenang saja. Disini ada telur ikan tuna. Tapi saya peringatkan, bahwa dalam telur itu mengandung banyak bakal calon ikan tuna. Maka, mari kita selamatkan untuk bumi yang lebih hijau, amin?! Nah, untuk telur ikan tuna, ketika saya mencoba, rasanya kurang mantap, kurang asin dan kurang berasa telurnya.

Lanjuuuut… ke gulai tuna. Sungguh, mas Hercules (sebutan yang saya pakai untuk pelayan warung makan ini) adalah manusia yang berbudiman. Hampir saja kami terjebak untuk memesan porsi seharga Rp. 80.000,00. Sepertinya beliau menyadari keluguan kami (atau kantong kami), lalu menawarkan porsi gulai seharga Rp. 20.000,00. Waaaahhh…makan disini selain terjamin rasa tetapi juga terjamin keamanan kantongnya. Rasanya juga enak & cocok untuk dimakan rame-rame. Soalnya porsinya besar kawaaan! Jadi, kalau kamu pelit dan ga’ mau berbagi, ya ga’ usah pesen ini. Sekian review tajam dari saya.

Sumber Foto: Pribadi

 
4 Comments

Posted by on October 20, 2011 in Tempat Asik, Uncategorized

 

Tags: ,

Android, Hidangan Manis dari Google

Oleh: Anisa Titisari

Apa yang Anda pikirkan begitu mendengar nama cupcakes, donut, eclair, froyo, gingerbread, honeycomb, dan ice cream sandwich? Ya, itu semua memang deretan menu yang umum dikonsumsi sebagai hidangan penutup (dessert) yang lezat. Lalu, pernahkah Anda mendengar teknologi sistem operasi berbasis Android? Jika Anda penggemar teknologi, saya pastikan Anda sudah tak asing lagi dengan sistem operasi canggih yang sedang populer saat ini. Teknologi Android biasa dijumpai dalam gadget genggam Anda untuk mempermudah segala bentuk komunikasi antar manusia. Sejurus kemudian, ada hubungan apa taburan-taburan choco chips, meises, sweet candy, butiran-butiran kacang almond, remah-remah biskuit, lelehan coklat, hingga bentuk-bentuk lucu nan menawan yang kerap menghiasi sajian penutup ini dengan Android? Adalah benar bahwa sederet nama-nama dessert tersebut merupakan nama dari setiap versi Android. Tetapi, apa maksudnya?

Perlu diketahui, dessert berfungsi sebagai pelengkap dari tiga tahapan makan, yaitu appetizer, main course yang kemudian ditutup oleh suguhan menu-menu manis dan berpenampilan cantik. Saran penyajian dessert pun berbeda-beda. Ada yang lebih enak dikonsumsi dalam keadaan dingin seperti frozen yoghurt atau lebih mantap dikonsumsi selagi hangat, seperti roti jahe. Menu-menu ini memang memiliki daya tarik tersendiri bagi pecinta kuliner. Namun, seperti kata pepatah, ide bisa datang dari mana saja bahkan dari hal yang tak pernah terpikirkan sekalipun. Dalam kasus ini, makanan dari rumpun dessert tak luput dari sesuatu yang dapat memberikan sebuah inspirasi dalam dunia yang sangat berseberangan, yaitu teknologi gadget.

Awalnya, Android merupakan sebuah perusahaan independen, Android Inc. yang kemudian dibeli oleh Google Inc. Setelahnya, Google mempersatukan beberapa perusahaan membentuk suatu Open Headset Alliance, sebuah aliansi terbuka bagi perusahaan-perusahaan yang ingin ikut mengembangkan teknologi ini. Sejak versi Android 1.5 (Cupcakes), Google telah mengklaim nama-nama yang digunakan adalah nama dessert sesuai dengan urutan abjad. Unik memang. Setelah Honeycomb (Android 3.0) versi teranyar saat ini, Android akan meluncurkan versi selanjutnya, versi 4.0 dengan nama Ice Cream Sandwich pada bulan November, 2011 mendatang. Sudah barang tentu topik yang beredar setelahnya adalah nama apa yang akan digunakan untuk versi abjad J dikemudian hari. Rumor menyebutkan, Jelly Bean akan menjadi nama Android versi kesepuluh. Lantas apa menariknya? Mengapa mereka memberikan nama-nama tersebut untuk produk mereka? Alasannya adalah agar mudah diingat.

Sejatinya, manusia akan lebih mudah melakukan sesuatu apabila menemukan sebuah ketertarikan. Begitu pula ketertarikan manusia dengan ragam dessert yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Siapa yang tak tertarik dengan warna-warni permen? Siapa pula yang akan menolak satu cone es krim? Atau siapa yang tak suka dengan gambar-gambar lucu yang tertera di atas sebuah cupcake? Visualisasi indah dan cantik inilah yang membuat manusia akan mengulik dan ingin tahu lebih dalam mengenai dessert. Sebagai contohnya, jangan heran apabila mereka mulai mencari dan mempelajari bahan-bahan serta cara pembuatan cupcake atau rela melancong ke Belanda hanya untuk mengetahui serta mencicip sensasi berbeda dari sebuah es krim. Mengutip sebuah ungkapan, “words by mouth is the most powerful word.” Dan benar saja, jika mereka menyukai es krim tersebut, biasanya mereka akan langsung berbagi cerita dan informasi secara detail kepada sanak saudara, kerabat, kenalan, atau siapapun yang dianggap perlu.

Kecenderungan lain yang timbul setelahnya adalah mudahnya manusia mengenali suatu hal yang disukai. Donat disukai, begitu juga dengan yoghurt. Komposisi gula, susu, keju, coklat yang umum terkandung dalam dessert memang sebuah kombinasi sempurna. Jika sudah sangat suka, maka sifat konsumtif manusia yang akan berbicara. Sifat itu muncul secara alami, apalagi berkaitan dengan makanan, sumber pokok kehidupan. Nantinya hal tersebut akan terbawa terus sampai si makanan tercatat sebagai menu favorit yang dicintai dan tak akan tergantikan. Kalau sudah begitu, siapa yang bisa lupa dengan donat coklat?

Di sinilah menariknya. Efek semacam ini benar-benar dimengerti oleh para punggawa Google. Deretan nama-nama dessert yang tentu saja sudah tidak asing dan sudah sangat dicintai ini menjadi senjata paling mumpuni untuk memperkenalkan produk-produk Android. Mereka memanfaatkan sifat alami yang dimiliki manusia dan menerapkan prinsip yang sama. Harapan mereka sudah tentu supaya label dessert yang dicantumkan pada Android akan menjadi penarik utama, sehingga nantinya Android akan masuk dalam daftar produk yang dipelajari, dikenal, disukai, dijadikan favorit hingga diingat oleh semua orang. Cara apik yang dilakukan Google bersama Androidnya untuk  menghormati dan menghargai sebuah hal bernama makanan, hal paling pokok dalam kehidupan.

 
Leave a comment

Posted by on October 20, 2011 in Tulisan

 

Tags: ,

Kualitas Cinta dalam Scoop Gelato

Oleh: Anisa Titisari

Artemis adalah sebuah sebutan dari mitologi Yunani untuk putri Zeus dan (istrinya) Leto yang berarti Dewi Bulan. Entah mengapa, nama dewi yang sering digambarkan dengan bulan sabit di kepalanya ini, kemudian digunakan untuk mengawali karir berdirinya sebuah kedai Italian Gelato & Sorbet di kota Yogyakarta. Dengan mengganti akhiran “-is” menjadi huruf “Y” pada Artemis, kedai berkonsep Eropa, Italia ini hadir untuk pertama kalinya di ruang publik Yogyakarta pada 18 Desember 2010, menempati sebuah tempat kecil di kawasan ramai pengunjung, Malioboro. Lokasinya tepat di Jl. Perwakilan No. 5 sebelah utara Hotel Ibis.

Gelato adalah es krim, bukan. Gelato adalah Gelato. Sebuah Italian frozen dessert yang mengandung komponen kimia berbeda dengan es krim. Rendahnya kandungan lemak, kalori, dan gula mengangkat Gelato menjadi lebih tinggi derajatnya dibanding es krim. Sekitar 4 hingga 8% lemak dari 14% kandungan lemak pada es krim biasa, dapat dikonsumsi oleh penikmat. Begitu pun dengan Sorbet yang hanya mengandung air dan buah saja. Tak seperti es krim biasa yang harus dibekukan secara terus menerus dengan suhu tinggi, Gelato dan Sorbet memangkas suhu mesin pendingin menjadi hanya sekitar minus 14 derajat celcius dari minus 20 derajat celcius.

Pemiliknya, Gregorius Gunawan menekankan satu hal, kuliner adalah hidupnya dan Gelato adalah cintanya. Rio, ia biasa dipanggil, melakukan perjalanan menuju Italia bersama kawan-kawannya saat menempuh pendidikan Double Degree di Belanda. Pertama kalinya menjejakkan kaki di Italia, pertama kali juga ia mencicip kelezatan sebuah Gelato. Saat itu ia bertutur, “makan siang cukup dengan Gelato saja”. Begitu terpesonanya hingga ia rela mempelajari seluruh resep pembuatan Gelato di negara sepakbola tersebut. Pria yang juga menempuh jurusan Manajemen, Universitas Gadjah Mada ini kemudian membawa pulang hadiah, resep Gelato ke Indonesia dengan satu misi, memperkenalkan Gelato.

Kedai ini mengklaim sebagai “The first and definitely the BEST Italian Gelato in town with superb ingredients and lots of love”. Dan memang benar, tak hanya slogan saja, Artemy menyuguhkan kualitas Gelato yang dapat dilihat mulai dari bahan pembuatan Gelato yang sengaja menggunakan bahan impor, cara pembuatan Gelato yang dilakukan sendiri (homemade), tentu saja dengan resep orisinil sang empunya kedai serta aspek kesehatan yang juga sangat diperhatikan dengan memperhitungkan secara pasti kadar lemak, gula, maupun kalori yang terkandung. Hasilnya, Gelato yang dihadirkan Artemy adalah Gelato yang hanya mengandung lemak susu tanpa penambahan zat apapun dan Sorbet yang dihasilkan pun adalah Sorbet yang memang mengusung rasa buah asli dan air. Sang pemilik resep bahkan hanya memberikan tambahan zat pewarna makanan untuk dua jenis rasa Gelato saja, yaitu Cotton Candy dan Mint. Maka tak heran, Gelato buatannya memang tampak pucat.

September 2011 lalu, kedai ini membuka cabang keduanya di Jl. Kranggan No. 58, Yogyakarta. Nuansa Eropa sungguh dominan. Pagar kayu pendek berwarna coklat berjejer menutupi barisan kursi cantik di bagian teras kedai. Hiasan lampu kecil-kecil berwarna kuning bak bintang dimalam hari menambah hangat dan nyaman suasana teras Artemy. Begitu masuk, mata pun tertuju pada warna warni pucat Gelato & Sorbet di dalam dua buah mesin pendingin. Tempat ini tiga kali lipat lebih besar dari tempat pertama, Artemy Malioboro yang hanya dapat menampung satu buah mesin pendingin dengan total 12 varian rasa saja. Sedangkan di sini, disediakan 12 varian rasa Gelato & 12 varian rasa Sorbet yang berbeda-beda setiap harinya. Mata kemudian beralih pada deretan pajangan Hand Grinder (alat pembuat kopi) yang dijual di kedai ini. Macam-macam Hand Grinder dengan berbagai bentuk dan kualitas bagus ditampilkan di sebuah rak tinggi memenuhi tembok sebelah kanan ruangan. Mengutip perkataan Rio, “kalo barang nggak bagus, aku nggak akan ambil. Aku bisa menjamin”.

Cabang ini memang menambahkan aneka menu kopi, tak seperti Artemy Malioboro yang hanya menyuguhkan menu Gelato & Sorbet dengan aneka toppingnya. Deretan menu Espresso, Cafe Latte, Machiato, Moccachino atau Americanos bisa langsung dipesan dengan kisaran harga Rp. 13.000,00 – Rp. 20.000,00 saja. Atau silahkan saja coba secangkir Ristretto, a very “short” shot of espresso, strong than stronger yang dapat dinikmati dengan harga Rp. 18.000,00. Ada juga Conpanna, suguhan espresso dengan whipped cream di atasnya serta Viennacinno, espresso dengan chocolate milk and white foam yang sangat dicintai pengunjung Artemy. Satu scoop Gelato di kedua tempat sama-sama di hargai Rp. 10.000,00 dengan tambahan Rp. 3.000,00 untuk setiap toppingnya. Terdapat sekotak kacang almond, marshmallow, meises, dan chocolate candy yang bisa ditambahkan di atas gundukan Gelato Dark Chocolate, pilihan rasa terfavorit kedai ini. Kombinasikan pula dua scoop antara rasa Ferrero Rocher Gelato dengan Blood Orange atau Lemon Sorbet yang menawan hanya dengan Rp. 17.500,00. Pilihan lain rasa Gelato yang tak kalah dominan di kalangan pengunjung adalah Rum, Capuccino, dan Snikers. Untuk Sorbet, rasa Kiwi atau Forest Berry juga bisa sangat menyegarkan. Andai saja semua menu itu masih belum cukup untuk rongga perut dan kerongkongan, coba pesan aneka snack Artemy, seperti Macaroni Schotel, Croissant, Sausage Brood, atau Chicken Pot Pie cukup dengan Rp. 10.000,00 saja.

Artemy Italian Gelato & Sorbet hadir, dibuat serta dihidangkan menggunakan hati dan cinta sang pemilik. Bekal ilmu yang didapatnya dari berbagai pengalaman benar-benar membuat dirinya tak ragu melangkah dan memutuskan untuk total dalam pengerjaan dan pengembangan kedai ini. “Cintai dengan hati apa yang kamu suka. Semua hal bisa dipelajari. Do or never do, kata Master Yoda.” ucap si pemilik sambil menyeruput secangkir capuccino.

Sumber Foto : KenyangBego

Wants to see another food capture?

 
4 Comments

Posted by on October 15, 2011 in Tempat Asik, Uncategorized

 

Tags: , , ,

Rica-Rica Kelinci

Oleh : Damar N. Sosodoro

Sebenarnya semua serba insidental. Kronologisnya begini: pakdhe saya adalah peternak kelinci kecil-kecilan, dan waktu itu ada seekor kelincinya yang gering (Jawa: sakit hampir mati). Beliau putuskan untuk menyembelihnya saja sebelum mati, tanpa pernah berpikir siapa yang akan mengolah dagingnya. Serta merta dia suruh saya untuk memisahkan, membersihkan, dan memasak daging kelinci itu. Karena waktu itu saya sedang ingin makan yang pedas-pedas, sontak yang muncul di kepala saya adalah rica-rica. Kebetulan waktu itu seorang kawan datang ke rumah, dan mendesak saya untuk mengirimkan resep ugal-ugalan ini ke KenyangBego. Baiklah, berikut bahan-bahan dan cara pembuatannya:

rica-rica kelinci

Bahan:

250 gram daging kelinci segar, cuci bersih, potong dadu

2 gelas kaldu kelinci (dibuat dari rebusan tulang)

1 buah tomat, iris kasar

1 batang daun bawang, iris kasar

1 buah bawang bombay, iris kasar

3 buah cabai merah keriting, iris kasar

5 buah cabai rawit hijau, iris kasar

3 siung bawang merah

3 buah bawang putih

3 sdm kecap manis

2 sdm margarin

1 sdt lada hitam

½ sdt ketumbar

Kemiri secukupnya

Garam secukupnya

Gula pasir secukupnya

Cara membuat:

  1. Haluskan bawang merah, bawang putih, lada hitam, ketumbar, dan kemiri.
  2. Panaskan margarin di wajan hingga meleleh. Masukkan bumbu halus, tumis hingga harum, lalu masukkan irisan bawang bombay, cabai merah keriting, dan cabai hijau. Tumis hingga layu.
  3. Masukkan kaldu kelinci, lalu masak hingga mendidih.
  4. Setelah campuran kaldu dan bumbu mendidih, masukkan daging kelinci dan aduk-aduk sebentar. Pastikan daging dan bumbu kaldu tercampur rata. Lalu tutup wajan dan masak daging selama 15-20 menit hingga daging empuk dan warnanya berubah sedikit pucat.
  5. Masukkan kecap manis, aduk hingga merata. Tambahkan garam dan gula pasir sesuai selera. Lalu masukkan irisan tomat dan daun bawang. Masak sebentar hingga tomat dan daun bawang layu serta kuah mengental.
  6. Sajikan selagi hangat.

Sekian, dan semoga bermanfaat. Tabik!

 
Leave a comment

Posted by on October 15, 2011 in Resep, Uncategorized

 

Tags: , ,

Big Night (1996)


Oleh: Arie Kartikasari

Sinopsis:

Primo (Tony Shalhoub) dan Secondo (Stanley Tucci), adalah kakak beradik imigran asal Italia yang menjalankan Paradise, sebuah restoran khas Italia yang hampir bangkrut, di New Jersey pada awal 1960an. selengkapnya

 
Leave a comment

Posted by on October 11, 2011 in Film&Food

 

Tags:

DOLE (Kado Lele)

Dole adalah sebutan kami untuk resep baru ini. Basically, Dole adalah Ekkado, makanan sejenis pangsit khas Jepang yang terbuat dari bahan dasar ayam, udang dan ikan. Biasa disajikan bersama telur puyuh di dalamnya. Tetapi, resep kami satu ini berbeda dan orisinil, yaitu ekkado dengan bahan dasar ikan lele. Berikut cara pembuatannya:

si Dole

Bahan:

350 daging ikan lele

10 gr (± 2 siung) Bawang putih

1 butir Telur ayam

8,5 gr garam

6 gr gula pasir

1,5 gr merica bubuk

1,5 gr pala bubuk

75 gr wortel, cincang haus

75 gr brokoli, petik kecil-kecil

Kembang tahu secukupnya

Kucai secukupnya untuk mengikat

Cara membuat:

  1. Masukkan daging lele dalam food processor dan bawang putih, giling halus.
  2. Tambahkan telur, garam, gula pasir, merica bubuk,  dan pala bubuk, aduk rata.
  3. Ambil selembar kembang tahu beri adonan, isi. Ikat bagian atas dengan kucai.
  4. Kukus sampai matang.
  5. Setelah dingin goreng dengan minyak panas.
  6. Angkat! Sajikan dengan saus Thousand island.

Resep ini dapat disajikan dengan healthy salad sebagai side dish-nya sebagai snack alternatif.

Selamat mencoba!

Elsa Mareta

 
Leave a comment

Posted by on October 10, 2011 in Resep, Uncategorized

 

Tags: ,