RSS

Kualitas Cinta dalam Scoop Gelato

15 Oct

Oleh: Anisa Titisari

Artemis adalah sebuah sebutan dari mitologi Yunani untuk putri Zeus dan (istrinya) Leto yang berarti Dewi Bulan. Entah mengapa, nama dewi yang sering digambarkan dengan bulan sabit di kepalanya ini, kemudian digunakan untuk mengawali karir berdirinya sebuah kedai Italian Gelato & Sorbet di kota Yogyakarta. Dengan mengganti akhiran “-is” menjadi huruf “Y” pada Artemis, kedai berkonsep Eropa, Italia ini hadir untuk pertama kalinya di ruang publik Yogyakarta pada 18 Desember 2010, menempati sebuah tempat kecil di kawasan ramai pengunjung, Malioboro. Lokasinya tepat di Jl. Perwakilan No. 5 sebelah utara Hotel Ibis.

Gelato adalah es krim, bukan. Gelato adalah Gelato. Sebuah Italian frozen dessert yang mengandung komponen kimia berbeda dengan es krim. Rendahnya kandungan lemak, kalori, dan gula mengangkat Gelato menjadi lebih tinggi derajatnya dibanding es krim. Sekitar 4 hingga 8% lemak dari 14% kandungan lemak pada es krim biasa, dapat dikonsumsi oleh penikmat. Begitu pun dengan Sorbet yang hanya mengandung air dan buah saja. Tak seperti es krim biasa yang harus dibekukan secara terus menerus dengan suhu tinggi, Gelato dan Sorbet memangkas suhu mesin pendingin menjadi hanya sekitar minus 14 derajat celcius dari minus 20 derajat celcius.

Pemiliknya, Gregorius Gunawan menekankan satu hal, kuliner adalah hidupnya dan Gelato adalah cintanya. Rio, ia biasa dipanggil, melakukan perjalanan menuju Italia bersama kawan-kawannya saat menempuh pendidikan Double Degree di Belanda. Pertama kalinya menjejakkan kaki di Italia, pertama kali juga ia mencicip kelezatan sebuah Gelato. Saat itu ia bertutur, “makan siang cukup dengan Gelato saja”. Begitu terpesonanya hingga ia rela mempelajari seluruh resep pembuatan Gelato di negara sepakbola tersebut. Pria yang juga menempuh jurusan Manajemen, Universitas Gadjah Mada ini kemudian membawa pulang hadiah, resep Gelato ke Indonesia dengan satu misi, memperkenalkan Gelato.

Kedai ini mengklaim sebagai “The first and definitely the BEST Italian Gelato in town with superb ingredients and lots of love”. Dan memang benar, tak hanya slogan saja, Artemy menyuguhkan kualitas Gelato yang dapat dilihat mulai dari bahan pembuatan Gelato yang sengaja menggunakan bahan impor, cara pembuatan Gelato yang dilakukan sendiri (homemade), tentu saja dengan resep orisinil sang empunya kedai serta aspek kesehatan yang juga sangat diperhatikan dengan memperhitungkan secara pasti kadar lemak, gula, maupun kalori yang terkandung. Hasilnya, Gelato yang dihadirkan Artemy adalah Gelato yang hanya mengandung lemak susu tanpa penambahan zat apapun dan Sorbet yang dihasilkan pun adalah Sorbet yang memang mengusung rasa buah asli dan air. Sang pemilik resep bahkan hanya memberikan tambahan zat pewarna makanan untuk dua jenis rasa Gelato saja, yaitu Cotton Candy dan Mint. Maka tak heran, Gelato buatannya memang tampak pucat.

September 2011 lalu, kedai ini membuka cabang keduanya di Jl. Kranggan No. 58, Yogyakarta. Nuansa Eropa sungguh dominan. Pagar kayu pendek berwarna coklat berjejer menutupi barisan kursi cantik di bagian teras kedai. Hiasan lampu kecil-kecil berwarna kuning bak bintang dimalam hari menambah hangat dan nyaman suasana teras Artemy. Begitu masuk, mata pun tertuju pada warna warni pucat Gelato & Sorbet di dalam dua buah mesin pendingin. Tempat ini tiga kali lipat lebih besar dari tempat pertama, Artemy Malioboro yang hanya dapat menampung satu buah mesin pendingin dengan total 12 varian rasa saja. Sedangkan di sini, disediakan 12 varian rasa Gelato & 12 varian rasa Sorbet yang berbeda-beda setiap harinya. Mata kemudian beralih pada deretan pajangan Hand Grinder (alat pembuat kopi) yang dijual di kedai ini. Macam-macam Hand Grinder dengan berbagai bentuk dan kualitas bagus ditampilkan di sebuah rak tinggi memenuhi tembok sebelah kanan ruangan. Mengutip perkataan Rio, “kalo barang nggak bagus, aku nggak akan ambil. Aku bisa menjamin”.

Cabang ini memang menambahkan aneka menu kopi, tak seperti Artemy Malioboro yang hanya menyuguhkan menu Gelato & Sorbet dengan aneka toppingnya. Deretan menu Espresso, Cafe Latte, Machiato, Moccachino atau Americanos bisa langsung dipesan dengan kisaran harga Rp. 13.000,00 – Rp. 20.000,00 saja. Atau silahkan saja coba secangkir Ristretto, a very “short” shot of espresso, strong than stronger yang dapat dinikmati dengan harga Rp. 18.000,00. Ada juga Conpanna, suguhan espresso dengan whipped cream di atasnya serta Viennacinno, espresso dengan chocolate milk and white foam yang sangat dicintai pengunjung Artemy. Satu scoop Gelato di kedua tempat sama-sama di hargai Rp. 10.000,00 dengan tambahan Rp. 3.000,00 untuk setiap toppingnya. Terdapat sekotak kacang almond, marshmallow, meises, dan chocolate candy yang bisa ditambahkan di atas gundukan Gelato Dark Chocolate, pilihan rasa terfavorit kedai ini. Kombinasikan pula dua scoop antara rasa Ferrero Rocher Gelato dengan Blood Orange atau Lemon Sorbet yang menawan hanya dengan Rp. 17.500,00. Pilihan lain rasa Gelato yang tak kalah dominan di kalangan pengunjung adalah Rum, Capuccino, dan Snikers. Untuk Sorbet, rasa Kiwi atau Forest Berry juga bisa sangat menyegarkan. Andai saja semua menu itu masih belum cukup untuk rongga perut dan kerongkongan, coba pesan aneka snack Artemy, seperti Macaroni Schotel, Croissant, Sausage Brood, atau Chicken Pot Pie cukup dengan Rp. 10.000,00 saja.

Artemy Italian Gelato & Sorbet hadir, dibuat serta dihidangkan menggunakan hati dan cinta sang pemilik. Bekal ilmu yang didapatnya dari berbagai pengalaman benar-benar membuat dirinya tak ragu melangkah dan memutuskan untuk total dalam pengerjaan dan pengembangan kedai ini. “Cintai dengan hati apa yang kamu suka. Semua hal bisa dipelajari. Do or never do, kata Master Yoda.” ucap si pemilik sambil menyeruput secangkir capuccino.

Sumber Foto : KenyangBego

Wants to see another food capture?

 
4 Comments

Posted by on October 15, 2011 in Tempat Asik, Uncategorized

 

Tags: , , ,

4 responses to “Kualitas Cinta dalam Scoop Gelato

  1. ana

    November 15, 2011 at 7:25 pm

    tapi ini bukan the trully gelato loh. karena teksturnya too soft untuk gelato.
    kalo mau cobain yg beneran gelato, agak susah ya carinya di jogja.
    dulu sih ada di tora bistro amplaz, dan harganya per-scoop

     
  2. ana

    November 15, 2011 at 7:25 pm

    tapi ini bukan the trully gelato loh. karena teksturnya too soft untuk gelato.
    kalo mau cobain yg beneran gelato, agak susah ya carinya di jogja.
    dulu sih ada di tora bistro amplaz, dan harganya per-scoop 15.000, tahun 2009an deh..

     
  3. kenyangbego

    November 17, 2011 at 1:35 pm

    memang. karena resep asli gelato gak mungkin untuk diaplikasikan ke cuaca tropis Indonesia, makanya di ubah sedemikian rupa resepnya agar bisa cocok sama keadaan di sini🙂

     
  4. be go

    November 11, 2012 at 3:22 am

    gak enak bego!

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: