RSS

Antara Ciz Keik dan Cheese Cake

Oleh: Anisa Titisari

Strawberry Cheesecake


Ketika resep cheese cake jatuh ke tangan bangsa Romawi pada saat menaklukkan Yunani, mereka memberi nama kue ini (yang ternyata diperoleh dari istilah Yunani) dengan sebutan placenta. Placenta kurang lebih sama dengan cheese cake, dipanggang pada alas pastry atau terkadang di masukkan ke dalam kantong pastry. Kue ini juga disebut sebagai Libum oleh masyarakat Romawi dan sering digunakan sebagai persembahan terhadap dewa-dewa. Resep Libum diciptakan oleh politikus Romawi bernama Marcus Porcius Cato (234 – 149 sebelum Masehi). Bahannya adalah 910 gr keju dihancurkan di dalam lesung. Setelah lembut, tambahkan 455 gram roti gandum atau jika ingin lebih ringan, hanya 227,5 gram roti gandum. Masukkan sebutir telur, aduk, kemudian adonan dialasi daun dan dimasak dengan api kecil di bawah tungku bata.

Tahun 230 sesudah Masehi, menurut John J. Sergreto, penulis buku Cheesecake Madness, resep dan bahan-bahan dasar cheese cake pertama disimpan oleh Athenaeus, penulis Yunani. Resepnya adalah keju yang dihancurkan sampai lembut, kemudian diayak, lalu tambahkan madu, dan campurkan dengan tepung terigu. Panaskan dalam jangka waktu tertentu, setelah dingin baru dihidangkan.

Namun resep-resep kuno itu kemudian berkembang seiring waktu. Seperti saat ini, sudah ada ratusan ragam resep cheese cake yang berbeda-beda. Tetapi perlu diingat, bahan yang paling utama di dalam setiap cheese cake adalah keju (yang paling umum digunakan adalah keju krim, Neufchatel, keju cottage, dan ricotta). Bisa bayangkan betapa lezatnya? Dan dari sekian banyak resep yang ada, tersebutlah sebuah resep dari salah satu kafe kecil di deretan ruko-ruko Jl. Babarsari, Yogyakarta bernama Ciz Keik. Tentu sangat menarik dan lezat mendengar namanya, bukan? Alasan itu lah yang saya gunakan untuk mencicipi aroma khas cheese cake yang sudah terbayang di kepala. Lelehan keju yang menyatu lembut bersama adonan cake nya membuat lidah bergoyang dan ingin cepat merasakan kenikmatan hakiki itu.

Begitu membaca slogan Premium Taste for special Moment pada papan kedai Ciz Keik, hasrat semakin membuncah. Empat menu dipesan berdasarkan tulisan di dalam kafe yang berbunyi Speciality in Cheese Cake, Pancake, Pasta and Chocolate. Pancake original, Strawberry Cheesecake, Klappertart dan Baked Cheese Fusilli Pasta. Kisaran harga yang dipajang di dalam buku menu seketika memang akan membuat efek laper mata. Dengan Rp. 8.000,- saja, Strawberry Cheesecake sudah bisa masuk ke dalam perut. Total uang yang dikeluarkan untuk menu-menu tersebut beserta minuman pun tidak lebih dari Rp. 60.000,-

Pelayan memberikan pelayanan yang sangat bagus. Di samping itu, tempatnya bisa dikatakan nyaman. Ruangannya mungkin hanya cukup menampung sekitar 20 orang saja. Tak cukup luas memang. Tapi tak bisa juga mengatakan bahwa kafe ini tidak lah nyaman. Duduk di sebuah sofa kulit empuk tinggi berwarna merah, ke empat makanan pembangkit selera yang telah dipesan datang memenuhi meja. Potongan buah strawberry diatas bolu cheese, tumpukan lapisan pancake yang empuk, bau panggangan pasta yang bisa mengeluarkan air liur, serta wajah klappertart yg ditaburi kismis di atasnya. Wow, sangat indah pemandangan di depan mata. Tapi hal itu tak berlangsung lama. Segera setelah saya tahu pemanis yang digunakan untuk sebuah pancake original bukanlah sirup Mapple, melainkan taburan gula pasir putih. Oh, ini tidak bagus. Atau ini kesalahan pelayan yang tidak memberitahukan bahwa pelanggan bisa memilih, ingin diberi gula pasir atau sirup? Begitulah kira-kira jawaban yang saya dapat.

Beralih ke piring cheese cake, garpu yang saya pegang pelan-pelan membelah lapisan cake tersebut. Potongan itu langsung saja masuk cepat ke mulut dan mata saya terbelalak, janganlah mengecewakan. Tetapi, lidah memang tidak dapat berbohong. Bayangan cake nan lembut serta lelehan keju yang dapat memenuhi rongga mulut saya tiba-tiba berubah menjadi ketidaksenangan. Mungkin saya terlalu terbuai sebelumnya. Sejarah kue keju yang termahsyur kelezatannya memberikan pengharapan terlalu tinggi.

Saat sendok pencicip ini memecah lapisan panggangan pada pinggan Baked Cheese Pasta, hal yang sama terjadi lagi. Baked Cheese Fusilli Pasta di dalamnya sangatlah encer, tidak kental seperti pasta panggang pada umumnya. Ini dapat diibaratkan seperti pasta yang tengah terendam macam sup. Yang menjadikan pasta ini lebih diakui adalah rasanya. Rasa (sirup) keju dan kekenyalan pasta masih bisa tertolelir oleh lidah. Puncaknya adalah Klappertart, menu terakhir yang tersisa di meja.

Alangkah surga rasanya bila Klappertart ini (paling tidak) mendekati harapan –walau sudah terlanjur runtuh- Namun, malapetaka justru terlanjur tersaji dengan rupa indah. Klappertart dingin, encer dan bagaikan adonan kue mentah dan amis. Klappertart andalan kafe Ciz Keik. Ya, mereka mengklaim menu seperti itu dengan sebutan Klappertart Dingin yang memang tersaji encer tanpa dipanggang. Benar-benar sangat disayangkan. Mungkin saya akan datang kembali suatu saat.

Sumber Foto : KenyangBego

Wants to see another food capture?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: