RSS

Cerita Minuman

Oleh: Anisa Titisari

Pagi-pagi, rutinitas yang terlihat di sebuah ruang makan (biasanya) adalah kegiatan sarapan. Anak meminum susu, ibu meminum teh, sedangkan ayah meminum kopi. Ya, sangat typical. Mungkin ini sudah tradisi, seperti kata iklan. Ketiga minuman ini tiba-tiba berubah menjadi sebuah cara ampuh untuk menyuguhkan adegan yang sangat dinamis, memberikan ruang dan kesempatan baik untuk sebuah ‘komunitas’ bernama keluarga agar saling bertatap muka, memperhatikan apakah sang anak perempuan sekarang mulai tumbuh jerawat di wajahnya. Anak laki-laki dengan seksama juga memperhatikan ayahnya membaca berita ekonomi dan politik yang berakhir dengan diskusi alot. Oh, si ibu juga nampaknya senang menyeruput tehnya setelah ia mempersiapkan segala sesuatunya di atas meja makan.

Lantas, apa yang terjadi jika salah satu anggota minuman tersebut tak hadir di atas meja makan? Maka lah tak ada lagi tampilan dinamis. Akibat yang ditimbulkan sangat jelas. Pertandanya sudah tercetak tebal. Sang anak jatuh sakit. Kopi dan teh yang tetap tersedia di meja makan kali ini meninggalkan separuh sisa bahkan utuh. Tidak kosong seperti biasa. Semakin kita tengok ke dalam cangkir, teh itu ternyata menangis. Teh dengan cepat membentuk lingkaran-lingkaran getar di dalam cangkir. Warna coklatnya berubah pekat mengumpul dalam pusat lingkaran. Bunyi gemerutuk ikut terdengar saat ibu mengangkat cangkir itu dan meminumnya sambil melihat si anak tergolek lemah. Walau hanya tersisa separuh dalam cangkir, teh sudah cukup bisa membantu ibu mengurangi emosi kesedihannya.

Suatu ketika, ada seorang teman lama berkunjung. Ia kini sudah rapi bersetelan jas dengan sepatu mengkilat. Sudah jauh intelek rupanya dibandingkan 10 tahun lalu saat masih bersama-sama lusuh di kampus. Apa yang dia bawa? Bir. Ia menyodorkan tiga botol bir ke meja dan langsung mengisi gelas-gelas kosong. Gelas berisi bir tersebut mulanya hanya mematung sama seperti suara mereka. Namun seketika terlontarlah gelak tawa mereka. Terbukalah apa yang selama ini pria bir itu kerjakan. Walau jarak waktu telah memberikan batas jelas keasingan, canggung tak lagi nampak.

Dan secara tiba-tiba seorang wanita bangun dari tidurnya. Berkeringat bahkan sampai basah kuyup. Nafasnya tersengal-sengal, tangannya gemetar dan giginya gemerutuk. Rambut dan bajunya acak-acakan. Pria di sebelahnya merasa sangat iba. Ia pun melangkah pasti menuju dapur dan memberikan segelas air putih untuk wanitanya. Air tersebut diteguk dengan sangat cepat dan buru-buru. Dua menit kemudian, nafas wanita berangsur-angsur stabil, tangannya sudah tak gemetar. Senyum sudah tersungging dan pelukan hangat pria di sebelahnya menuntunnya untuk kembali tidur.

Puncaknya saat beragam jenis minuman hadir di atas meja makan besar dengan warna-warni yang sangat menggoda. Aneka minuman itu tersedia untuk menemani sekumpulan sanak saudara, kerabat dan rekan kerja disebuah malam saat perayaan. Tak ada kesedihan, tak ada kemuraman. Minuman-minuman itu melebur menjadi satu memberikan warna-warna indah mereka. Apa yang disuguhkan setelahnya? Kebersamaan.

Apakah ini terlalu mengada-ada? Tidak. Minuman-minuman tersebut menggambarkan garis lurus yang sangat jelas. Mereka (manusia dan minuman) telah memiliki hubungan permanen alami, yang paling hakiki dan paling nyata terjadi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: