RSS

Cinta Picisan Patut Dimakan

Oleh: Ardi Wilda

Chiki CInta

Seorang teman saya yang pernah berencana membuat warung makan pernah mengatakan teori memulai bisnis makanan pada saya. “Sakjane bisnis makanan ki seng penting mung loro, rasa ro suasana (Sebenarnya bisnis makanan itu yang penting hanya dua, rasa dan suasana). Rasa tentu merujuk pada urusan lidah, rendang yang dibuat oleh Uni dan Uda asal Padang jelas berbeda dengan rendang yang tidak dibuat orang Minang. Sementara suasana sifatnya lebih absurd, sehingga harus saya jelaskan di paragraf setelah ini agar paragraf pertama ini hanya punya satu pokok pikiran, ya saya konservatif.
Suasana menurutnya merujuk pada apa yang kita rasakan saat mengunjungi atau merasakan makanan di sebuah tempat makan. Suasana warung Burjo jelas berbeda dengan restoran di kawasan Kemang misalnya. Makan di burjo membuat kita merasa merakyat namun jika ingin bertingkah layaknya Djenar Maesa Ayu tinggal gotong Macbook anda ke Coffee War Kemang. Suasana menciptakan kelas dan perasaan nyaman tersendiri bagi setiap orang.

Banyak orang menyangka suasana hanya tercipta untuk makanan kelas atas yang berarti makanannya mahal dan diperuntukkan bagi orang berduit, saya sama sekali tak setuju dengan hal itu. Yang membuat saya tak setuju adalah (silahkan telan ludah anda) “Cinta”. Iya “Cinta” membuat saya percaya semua makanan bisa menghadirkan suasana tertentu bagi siapapun yang menikmatinya, tak terkecuali golongan kelas bawah.

***

Minggu-minggu awal saya mengajar SD di daerah penempatan saya (Tulang Bawang Barat, Lampung) saya sering kaget mendengar murid saya mengatakan, “Makan Cinta yuk, makan cinta.” Berlagak sok pintar saya mengira itu adalah efek dari sinetron-sinetron di televisi yang banyak mengobral cerita cinta picisan. Nyatanya hipotesis saya salah total, Murid saya memang benar-benar memakan Cinta, Cinta dalam makna yang paling denotatif.

Kado Cinta

Cinta yang dimaksud oleh murid-murid saya adalah sebuah makanan ringan atau biasa kita sebut Chiki bermerk “Cinta”. Tak seperti chiki yang kita kenal, “Chiki Cinta” ini berisi kerupuk ikan. Rasanya gurih seperti kebanyakan kerupuk, bedanya jika kerupuk lain dikemas dalam plastik putih bening maka kerupuk Cinta ini dikemas layaknya chiki yang kita kenal.

Makanan ringan seharga seribu rupiah ini amat digemari anak-anak. Setiap istirahat mereka selalu menyempatkan diri makan kerupuk cinta. Bahkan beberapa kali saya ditawari untuk memakannya, “Ayo Pak Ardi makan Cinta Pak,” bujuk murid-murid saya. Saya sering menolak tawaran itu, bukan karena rasanya yang tidak enak namun frase “Makan Cinta” membuat saya yang tanpa pasangan ini sedikit mengasihani diri sendiri.
Belum selesai rasa penasaran dan perih saya akibat disuruh makan cinta oleh murid-murid saya sekali lagi saya disuruh berurusan dengan “Cinta”. Dengan entengnya murid-murid saya mengatakan, “Pak ngemut Cinta Pak”. Di dalam hati kecil saya hanya berpikir, “Ya Tuhan cobaan apa lagi ini?”. Dan sekali lagi ngemut cinta disini adalah makna yang sangat denotatif.
Ngemut cinta yang dimaksud murid-murid saya adalah sebuah permen yang mereka dapat dari produk bernama “Kado Cinta”. Jika anda hanya membeli kado cinta untuk pasangan hanya pada saat tanggal ulang tahun atau jadian maka murid-murid saya membeli “Kado Cinta” hampir setiap hari. Kado Cinta adalah sebuah produk yang dikemas dalam sebuah kotak berukuran ¾ kotak rokok dengan isi (biasanya) permen. Pada dasarnya “Kotak Cinta” tergolong mahal karena hanya berisikan permen namun dijual seharga seribu rupiah. Seperti halnya disuruh makan cinta saya juga kerap menolak ketika diminta ngemut cinta, sebab pikiran saya langsung melanglang buana menyeberang pulau kalau disuruh melakukan kedua hal itu.
Dua makanan kecil itu saya anggap biasa saja sampai sebuah mention dari stranger bernama @ichabego (Oh Tuhan nama akun ini aneh sekali) yang meminta saya mereview makanan untuk situs kuliner buatannya (@KenyangBego, Tuhan kenapa ia senang dengan kata bego?). Menolak undangan menulis adalah pekerjaan berat buat saya maka saya menyanggupinya. “Makan Cinta” dan “Ngemut Cinta” lah yang pertama kali terlintas dalam pikiran untuk saya tuliskan. Melakukan riset kecil tentang dua produk ini rasanya menarik, dan saya kemudian melakukannya.

Ipin , Dimas dan Vai penasaran membuka hadiah dari kado cinta

“Biasa aja Pak, malah baunya itu kaya obat lho pak, kaya bau-bau rumah sakit gitu Pak,” tutur Nika, siswi kelas 4, saat saya tanya rasa Chiki Cinta. “Enggak enak lho Pak, aneh rasanya, enakan koko (koko adalah sebutan untuk makanan ringan bajakannya Koko Crunch),” ungkap Ipin yang juga berasal dari kelas 4 menanggapi Nika. Otak saya kemudian berpikir kenapa chiki yang amat laris ini ternyata dianggap tak enak oleh konsumennya.

“Terus kenapa kalian beli?” tanya saya kemudian. “Bagus pak soalnya warna-warni,” sela Mitra juga dari kelas 4. “Kadang dapet duit, mainan sama boneka kecil lho Pak,” timpal Ipin. “Iya pak banyak hadiahnya,” tambah Mitra lagi. Ternyata “Chiki Cinta” menyediakan banyak hadiah di dalam bungkusnya jika beruntung. Sebuah strategi yang dulu digunakan Chiki bergambar Mario Bros di dekade 90-an dengan memberikan uang di dalam bungkusnya. Atau juga dilakukan Chiki Ball, Jetz atau Chitato yang memberi hadiah mainan yang disebut dengan tazos bergambar tokoh Looney Tunes juga di dekade yang sama.

Hal serupa terjadi dengan “Kado Cinta”. Produk yang membuat istilah Ngemut Cinta menjadi hal yang wajar ini ternyata juga menyediakan hadiah dalam setiap bungkusnya. Ipin bahkan mendapatkan sebuah jam bertema sport dari produk ini. “Lha ini lho Pak, bagus kan,” kata Ipin sambil memamerkan jam yang modelnya mengingatkan saya pada G-Shock. Lia, siswi kelas 4 lainnya juga mengaku mendapatkan anting-anting bermotif kupu-kupu dari produk ini. Anehnya kemudian adalah mereka kerap mengesampingkan permen yang ada di kado cinta ini.

Saya kemudian mulai merasa dua produk ini istimewa bukan karena, dalam istilah teman saya rasanya, melainkan suasana yang dihadirkan. Murid-murid saya tak membeli rasa dari makanan ringan ini melainkan membeli sebuah keterkejutan. Membuka “Chiki Cinta” untuk kemudian menggali hadiahnya memunculkan perasaan deg-degan, dan semua manusia menyukai kejutan bukan? Seperti ketika kita menunggu balasan pesan pendek dari gebetan (maafkan istilah gebetan ini kawan).

“Kado Cinta” bahkan menghadirkan suasana psikologis yang sangat keren buat saya. Mengambil nama Kado diiringi kata Cinta, kado memberi efek sesuatu yang harus dibuka, sementara cinta ya tak usah saya jelaskan. Saat membuka produk ini murid-murid kerap berkumpul untuk melihat apa yang ada di dalamnya. Dan perasaan bercampur aduk hadir ketika mengetahui apa hadiahnya.

Jam Ipin hadiah dari Kado Cinta

Baik kerupuk dalam “Chiki Cinta” atau permen dalam “Kado Cinta” bukan lagi sebuah hal primer disini. Murid-murid saya membeli keterkejutan dari produk itu, mereka berjudi dengan perasaan mereka mengenai apa yang mereka dapatkan dari sebuah produk pengusung cinta. Rasa deg-degan saat membuka dan bagaimana itu menjadi kesenangan bersama dengan teman-temanlah yang mereka cari, bukan produknya itu sendiri.

Cinta kemudian menjadi selimut dari itu semua. “Chiki Cinta” menghadirkan desain gambar hati yang dominan dengan warna-warna mencolok sambil mengutuk warna-warna pastel. “Kado Cinta” menghadirkan desain gambar hati beraneka ragam dengan warna pink atau biru muda yang mencolok. Penggambaran Cinta yang picisan tentu saja. Namun adakah cinta yang tidak picisan saat ini? Saat gombalan cinta jadi sesuatu yang dianggap fun dan keren atau saat ikon pasangan seperti Rangga dan Cinta sudah berlalu sepuluh tahun lalu. Saat ini cinta memang hanya patut jadi kudapan dan emutan anak-anak semata.

Namun dua produk ini menghadirkan kepercayaan bagi saya bahwa kami yang berada di kelas bawah juga bisa menikmati suasana yang dihadirkan oleh sebuah makanan. Anak-anak yang setiap hari mengambil getah karet ini bahkan lebih memilih membeli suasana ketimbang rasa. Tak beda jauh dengan mereka yang hadir di Starbucks sekedar untuk check in foursquare. Namun kami lebih unggul dari para anak muda generasi foursquare, setidaknya kami masih punya cinta setiap hari. Cinta dalam arti yang paling denotatif.

*ditulis sambil diiringi lagu Unfollow RSTH dan Gemerlap Kota-nya Slank. Semoga pemilik @kenyangbego tidak meminta mengganti akun twitter saya menjadi @awebego.

Sumber Foto: dok. Pribadi Ardi Wilda

 

3 responses to “Cinta Picisan Patut Dimakan

  1. Andy

    February 20, 2012 at 9:46 pm

    Wow! Tulisan yang dahsyat!

     
  2. kenyangbego

    February 24, 2012 at 12:37 pm

    akan kami sampaikan koment kakak ke penulis🙂
    Terima kasih🙂

     
  3. ahmad

    January 26, 2013 at 6:43 pm

    mau nanya.,.produksi mana kado cinta ,.,.?

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: