RSS

Ingin Makan? 60 km Lagi

Oleh : Anisa Titisari

Pernah berpergian ke luar kota terutama luar propinsi menggunakan jalur darat? Selain perjalanan lebih terasa menyenangkan, capek dan kadang membosankan, setiap menit yang berlalu senantiasa diiringi dengan pandangan mata yang tertuju pada keadaan sekitar melalui kaca kendaraan. Kebetulan, hari Minggu lalu saya kembali menyusuri aspal Jogjakarta sampai ke Jakarta. Waktu tempuh yang dibutuhkan sekitar 8-9 jam. Daripada tidur terus menurus, lebih baik saya memperhatikan hal yang menarik sedari kota Gombong. Spanduk-spanduk kecil bertuliskan “(Nama Restoran)-10 km lagi (tanda panah lurus)” yang dibuat dengan warna yang mencolok menyapa mata saya. Sudut mata saya pun terus memicing karena beradu dengan kecepatan kendaraan supaya bacaan-bacaan yang tertulis dapat dengan jelas saya rekam ke dalam ingatan.

Memang benar ada yang menarik. Mata saya pun tak berkedip. Apa yang saya dapat? Keunikan. Spanduk yang selalu ada (kira-kira) dalam setiap radius 50 meter itu bak kurir pembawa pesan tak bergerak yang sangat efektif. Kenyataannya, kami (para pelaku perjalanan) dipaksa untuk merekam data-data provokatif sebuah rumah makan guna memenuhi kebutuhan perut. Seperti, “Lapar? Isi Perut Saja Dulu. 30 km lagi. Pringsewu Restaurant”. Layaknya petunjuk sebuah harta karun, 50 hingga 100 meter ke depan, terpasang kembali ajakan lainnya, “Perut Kenyang dan Bisa Leyeh-Leyeh? 20 km lagi. Pringsewu Restaurant”. Begitu seterusnya sampai pada lokasi rumah makan yang sesungguhnya.

Perjalanan panjang inilah yang menjadi kunci utama mengapa spanduk-spanduk mentereng itu berjejer dengan apik dalam jarak yang sudah ditentukan. Jarak ratusan kilometer yang ditempuh para pelancong, membuat pelaku bisnis rumah makan mengambil langkah unik, yaitu memanjakan kami, para pelancong pelaku perjalanan jauh. Apa buktinya? Pertama, kami tidak perlu susah payah mencari tempat mengisi perut di daerah yang tidak dikenal. Mereka dengan berbaik hati menuntun kami ke tempat mereka dengan memasang puluhan petunjuk dan arah. Kedua, kami pun tak perlu susah-susah mereka-reka dan menebak, “Rumah makan apa itu? Jual makanan apa?”. Mereka sudah memikirkan kemungkinan tersebut dengan mencantumkan menu andalan mereka macam Ayam Bakar atau Gurame Masak Jawa di spanduk-spanduk. Ketiga, setelah kami berhasil digiring menuju tempat mereka, suguhan tempat dan suasana berkualitas pun tak luput dari pelayanan. Tempat yang luas nan megah, suasana yang dibangun serta pelayanan yang memuaskan adalah harta karun emasnya.

Mayoritas para pelancong daerah Jawa Tengah dan sekitarnya adalah berasal dari ibukota. Hiruk pikuk kemodernan, udara dan suasana yang menyesakkan mendominasi kehidupan mereka. Otak pintar pelaku bisnis rumah makan menyulap suasana rumah makannya menjadi pedesaan atau perkampungan. Sengaja dilokasikan ditengah hamparan hijau sawah, ornamen-ornamen berbau tradisionil khas Jawa Tengah menambah binar-binar mata para pelancong yang singgah. Masih ingat mengapa suasana adalah hal penting dalam berkuliner? Silahkan tilik pembahasannya di Snack Cinta.

Yang paling tersohor adalah Pringsewu Restaurant. Semenjak kabupaten Sumpiuh sampai ke Purwokerto, hiasan spanduk berwarna kuning dengan font merah menyala merapat di kanan kiri jalan propinsi ini. Tak hanya petunjuk lokasi dan menu, Pringsewu Restaurant juga memberikan detail “Gratis Peta Perjalanan” pada sapanduknya, mengingat jalur ini adalah salah satu jalur utama dari dan menuju Jawa Tengah sampai ke Jawa Timur. Spanduk hijau Restaurant Bebek Goreng Slamet (Asli) pun tak mau kalah menarik perhatian para pelancong mulai dari Gombong sampai Kutoarjo. Sederet lainnya adalah pemain lokal seperti Abah nDut, R.M Musim Sari, Bale Ijo atau Waroeng Djoglo, rumah makan berdesain Rumah Joglo yang menyediakan menu andalan Gurame, dimana spanduknya sudah bisa ditemukan disepanjang kabupaten Purworejo. Apabila bosan dengan menu ikan, makanan laut pun bisa ditemukan di Grafika Seafood.

Begitu banyak kemudahan, variasi menu dan kenyamanan yang ditawarkan iklan-iklan tersebut. Penentuan typografi atau komposisi warna pun secara tidak langsung mempengaruhi akan dibaca atau tidaknya sebuah reklame. Yang dapat tercatat oleh memori saya hanya empat rumah makan saja dari sekian banyak reklame yang terpasang. Itu karena cara penulisan, besar kecilnya huruf dan bahasa yang digunakan adalah yang paling menjanjikan dan paling jelas. Semua berawal dari rasa perduli para pelaku bisnis rumah makan terhadap pelanggan. Bahkan Restaurant Pringsewu tak hanya menjual dirinya sendiri saja. Mereka tak segan memberikan himbauan “Gunakan Sabuk Pengaman” atau “Utamakan Keselamatan”. Ingin sebaik mungkin memberikan pelayanan mumpuni bagi mereka yang sedang melakukan perjalanan jauh. Maka tak heran jika penyedia jasa rumah makan luar kota tak tanggung-tanggung dalam memberi service dan kepuasan.

Ada satu hal yang mencolok. Mereka tak lagi bersaing menu dan rasa. Justru persaingan yang terlihat adalah persaingan banyak-banyakan spanduk. Jika spanduk yang dipasang kurang dari spanduk kompetitor, maka dapat dipastikan bahwa minat pelancong mengunjungi rumah makannya pun akan berkurang. Mirip dengan musim kampanye politik. 5 km lagi si adik bisa berhenti menangis karena rumah makan yang dijanjikan spanduk restaurant menyediakan arena bermain anak. 3 km lagi ibu dan ayah bisa tidur, istirahat di bale nyaman yang juga telah disediakan. Dan 1 km lagi, supir bisa menikmati kopi penghilang rasa kantuk. Lalu, siapa yang akan meributkan soal rasa? Tujuan akhirnya adalah kepopuleran. Semakin banyak reklame dan iklan-iklan yang dipasang, semakin tinggi pula kemungkinan Awareness, Interest, Desire dan Action (AIDA) yang diterima oleh audience. Dan saya rasa, ini adalah salah satu cara ampuh menjual diri.

 

4 responses to “Ingin Makan? 60 km Lagi

  1. meggaaaa

    May 17, 2012 at 1:16 pm

    pas perjalanan darat jakarta-jogja, pemandangan spanduk pringsewu bener-bener gak asing lagi. saking banyaknya sampai iseng ngitungin ada berapa spanduk. yang lucu, pas udah bener-bener ngelatin restorannya, beberapa meter kemudian ada tulisan “silahkan berbalik arah, anda 50 meter terlewat dari pringsewu” (lupa detailnya gimana). terus sekitar 1km dari restoran pringsewu tadi, saya udah nemuin spanduk yang bilang 40km lagi ke restoran pringsewu berikutnya😀

     
  2. PRINGSEWU Resto Grup (@PRINGSEWU_Resto)

    June 28, 2012 at 9:40 am

    Dear Annisa

    Thank you in advance for the great review🙂 we are honoured to be your article topic. Setelah melintas, jangan lupa untuk singgah ya Nissa🙂

    Akan ada pengalaman kuliner yang berbeda, akan ada banyak kejutan dan pengalaman istimewa yang tak ditemukan di Resto lain, seperti free magic card saat menunggu hidangan keluar (bahkan trik sulapnya kami bagikan gratis) hingga Free Bibit pohon sebagai salah satu upaya kami memerangi Pemanasan Global, tentu saja dengan menu-menu yang nikmat, lezat dan dijamin halal.

    Jangan lupa singgah (jika musim keramaian liburan kami menerapkan sistem layanan cepat & saat hari biasa kami terapkan a La Carte). Follow juga akun twitter kami @PRINGSEWU_Resto atau klik http://www.pringsewuresto.co.id

    Enjoy the taste, feel the atmosphere🙂

    Salam hangat
    Pringsewu Group

     
    • kenyangbego

      July 6, 2012 at 9:00 pm

      Salam hangat selalu. Terima kasih responnya🙂

       
  3. yusuf

    January 15, 2014 at 12:26 am

    pas mudik yah ini

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: