RSS

Jebakan Menu Terakhir

Oleh : Windu W. Jusuf

I

Selain sama-sama mengisahkan hukuman mati, apa kesamaan film The Life of David Gale (2003) dan The Green Mile (1999)? Tepat, ada sekuens tentang  hidangan terakhir sebelum proses eksekusi. Di Amerika, menu terakhir terpidana mati selalu diumumkan dan dinanti-nanti publik. Dalam film The Life of David Gale, beberapa hari menjelang eksekusi daftar makanan terakhir David Gale diumumkan, dan kepada sipir penjara, ia memesan panekuk, stroberi, whipped cream, dan seterusnya. Sementara karakter terpidana mati dalam film The Green Mile memesan roti jagung, daging asap, dan kentang lumat. Di dunia nyata, tak semuanya beruntung mendapat kemewahan ini. Pun, beberapa bahkan cukup puas dengan makanan ringan atau apapun yang ditemukan di dapur penjara. Timothy McVeigh, terpidana mati kasus pemboman kota Oklahoma tahun 1992, hanya memesan dua gelas es krim coklat Ben & Jerry. Ada pula seorang pembunuh berantai (saya tidak ingat namanya) yang hanya memesan sebiji buah zaitun.  Adakah hubungan antara kejahatan dan hidangan sebelum mati? Kalaupun ada, itu pasti cuma spekulasi iseng. Situs-situs seperti lastmealsproject.com atau famouslastmeals.com mencoba mendokumentasikan daftar makanan terakhir para terpidana hukuman mati yang paling terkenal. Sulit melacak asal usul dan alasan yang jelas mengapa tradisi ini tetap berlangsung. Tapi keberadaan situs-situs itu sepertinya tidak hanya mau menegaskan “makanan terakhir harus enak”, tapi juga “apapun yang kita makan harus enak, karena kita tidak tahu kapan kita akan mati.”

Pancake Strawberry with Whipped Cream yang diminta David Gale menjelang eksekusi dalam The Life of David Gale

II

Konon ini ada hubungannya dengan tradisi abad pertengahan di Eropa, dimana jamuan terakhir sebelum mati punya makna yang sakral, bukan hanya bagi mereka yang menanti algojo tentunya. Tema lukisan Perjamuan Terakhir misalnya, merupakan perlambang komuni suci antara Yesus dan murid-muridnya pada malam sebelum ia disalib (baca: dihukum mati oleh orang Roma). Akar lain yang masih bisa dilacak adalah tradisi pagan Eropa. Ada kepercayaan bahwa orang yang mati dieksekusi harus dijamu sepuas-puasnya dan semewah-mewahnya agar rohnya tidak menuntut balas. Perjamuan terakhir pun menjadi semacam kesepakatan antara eksekutor dan yang dieksekusi. Selain sesajen, hubungan antara roh dan makanan tidak sampai situ saja.

Dalam catatan-catatan etnografi kolonial tentang praktik kanibalisme di Sumatra, Junghuhn antara lain mencatat bahwa daging orang yang dihukum mati dikonsumsi agar rohnya tidak bisa membalas dendam dan supaya kekuatan magis roh terserap ke dalam diri orang yang memakan jenazahnya. Logika yang serupa berlaku juga dalam pengorbanan manusia yang dilakukan suku Aztek. Intinya, dalam tradisi-tradisi yang masih percaya roh dan dedemit ini, roh harus dipuaskan atau dikebiri kekuatannya sejak awal—pokoknya, dijauhkan dari lingkungan orang-orang yang masih hidup. Tidakkah menghidangkan menu terakhir bagi terpidana mati di sini mirip dengan memberikan sesajen sebelum maut benar-benar menjemput? Maka, boleh jadi kesantunan menyuguhkan menu terakhir justru merupakan ketidaksopanan yang luar biasa. Pesannya: “kami tidak ingin merasa bersalah karena telah membunuhmu. Bahkan kami juga tidak bisa mentolerir jejakmu. Cepat, minggat sana!”

III

Ketika kepercayaan terhadap roh dan sejenisnya tidak lagi relevan, kematian pun semakin menjadi urusan privat. Akan tetapi, kita yang sekuler tetap yakin bahwa orang yang sekarat harus dipenuhi keinginan-keinginannya. Salah satu tujuannya adalah memberikan kepuasan yang belum atau pernah dialami si orang yang sekarat agar ia pergi dengan iklas. Setidaknya, dalam memori terakhirnya tersimpan yang enak-enak dan yang bagus-bagus untuk mengkompensasi ketakutan dan segala macam kesedihan. Namun ada yang ironis di sini, karena “menikmati saat-saat terakhir” seolah adalah keharusan. Dan kita pun mengenal ekspresi-ekspresi tertentu—terutama dalam kaitannya dengan makanan dan seks—yang mengacu pada kematian dan diucapkan ketika mencapai kepuasan tertinggi. Orang Prancis menyebut orgasme dengan istilah “la petite mort” (“kematian kecil”), sedangkan para sosialita yang kekenyangan dalam film The Big Night mengatakan “Setelah ini aku bisa mati dengan damai.” Ekspresi-ekspresi ini pun bisa dipertukarkan. Tokoh-tokoh dalam animasi lawas Born to Cook, misalnya, menampakkan raut wajah orgasmik ketika mencicipi makanan yang luar biasa enak. Semua kenikmatan harus dibayangkan sebagai “yang terakhir”. Anehnya, tidak ada “kepahitan terakhir”, karena konon dalam setiap nasib buruk selalu ada balasan kebaikan yang setimpal dan kebahagiaan yang menjelang. Betapa utopisnya.

Di zaman kita, bertanya “bolehkah kita tidak menikmati makanan A atau B (yang jelas-jelas enak)?” mungkin sama brutalnya dengan menolak mengisi formulir menu terakhir (seandainya kita terpidana mati) atau menolak pengakuan dosa sebelum mati.

IV

Di sini ada satu film yang patut ditonton, yakni Afterlife (1998). Afterlife bukan film tentang makanan ataupun hukuman mati; ia berkisah tentang sebuah tempat yang mirip purgatori. Tapi jangan bayangkan terdapat surga, 72 perawan, neraka, setan, malaikat pembawa cambuk, atau balas dendam binatang-binantang yang sehari-hari biasa kita siksa. Purgatori dalam Afterlife lebih mirip kompleks perkantoran tua. Di sana orang-orang yang baru mati memilih satu memori dari kehidupan mereka di dunia, dan mereka akan hidup abadi bersama memori tersebut. Satu-dua orang sangat cepat memilih, sementara yang lainnya perlu berlama-lama menonton rekaman kehidupan mereka sebelum mati agar tidak salah pilih. Yang menakutkan bukanlah ancaman siksa neraka, tapi memilih memori. Anehnya, barangkali Afterlife adalah sebuah film yang paling mendekati gambaran hari-hari terakhir terpidana mati. Pertimbangan ketika memilih memori mirip dengan pertimbangan menu terakhir apa yang mau dimakan: memori/makanan yang hambar tapi sudah terlanjur intim dengan keseharian kita, memori/makanan yang paling membahagiakan/enak seumur hidup, dan seterusnya.

Pada saat bersamaan, orang-orang mati dalam Afterlife justru nampak berasyik-masyuk memilih dan memilah ingatan. Ironisnya, mereka diizinkan untuk tidak menikmati proses itu dan boleh tinggal selama mungkin dalam purgatori.

V

Coba  lihat acara-acara kuliner di TV, semakin sulit menemukan komentar “tidak enak”. Kalau tidak suka kue C, makan saja D. Syaratnya satu: jangan pernah bilang “tidak enak”. Jijik karena makan belalang, bekicot, sampai janin kijang boleh-boleh saja, asalkan dikompensasi dengan mimik wajah yang puas dan berkeringat. Bukankah situasi “menu terakhir” ternyata sering kita temui dalam keseharian?

 

2 responses to “Jebakan Menu Terakhir

  1. Evi

    May 10, 2012 at 1:56 pm

    Apa iya makanan bisa mengkompensasi ketakutan orang yg akan dieksekusi mati. Kalau yang seumur hidupnya gak pernah makan enak sih mungkin sedikit terhibur. Eh gak terhibur juga ding, malah pasti sedih, lah kok ya makanan enak ini hanya bisa dinikmati menjelang mati? Weeehh..ribet amat ya tradisi manusia…

     
  2. kenyangbego

    May 12, 2012 at 10:40 am

    makanan bisa disebut sbg hal yg paling manusia. jadi, kalo makanan bisa jadi kompensasi ketakutan, itu mungkin aja🙂

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: