RSS

Jiwa Unik di atas Trotoar Ice Bar

Oleh: Rifki AP

“Rock n’ Roll itu sebenarnya cocok buat orang yang suka ngerokok,” ungkap Agung Pedro, “agak semriwing gitu nanti di tenggorokan, setelah ditelan, seger, terus ada pahit yang tertinggal, ada aftertaste-nya.”

Agung Pedro bertutur sembari duduk di atas trotoar (dalam arti sebenarnya) dan di belakang sebuah stand minuman miliknya, Trotoar Ice Bar. Tepat di bawah banner 1,5 x 1 m berhiaskan logo Trotoar Ice Bar, ia berkisah, “Saya kenalkan pertama bulan September 2007. Pertama kali di sini, Jakal Km. 5, makanya ini emblemnya masih ‘Km. 5’,” kata Agung perihal kedainya yang menyajikan Yoghurt, Squash, juga Mocktail—campuran dua atau lebih minuman non-alkohol.

Berdiri di Jalan Kaliurang Km.5 tepat sebelah utara warung Sop Ayam Pak Min, kedai minuman Agung Pedro ini cukup menarik perhatian orang. Logo “Trotoar” yang menyerupai logo minuman Jack Daniels menjadi salah satu daya tarik. Citra unik ini, kata Agung, turut memicu respon orang atas kedainya, “Pertama kali orang bilang, ‘Apaan tuh, gaya kayak bar-baran!’, tapi kan memang bar itu berasal dari kata apa dulu. Kalau menurut saya, ini termasuk bar. Karena bar itu berasal dari kata barrier atau pembatas di mana disajikan atau dipesan minuman.” Terkait logo yang diusungnya, Agung lantas menjelaskan, “Selama ini, misalkan belum bisa bikin logo, toh ini saya pakai yang udah ada dulu. Perbedaannya, ‘Jack D’ alkohol-nya 40%, sedang ini 0%. Dia (Jack Daniels—red) jual minuman beralkohol, yang ini enggak beralkohol.”

Agung Pedro sedang mencampur bahan untuk dibuat yoghurt

Sembari menuturkan konsep me-too product yang menjadi dasar pembuatan logo, pria berciri khas topi Baker Boy ini menerangkan, “Kenapa saya pakai emblemnya kayak Jack Daniels, kalau menurut saya lambang ‘Jack D’ bagus. Bukan hanya itu saja, reputasinya  pun bagus. ‘Jack D’ menjual minuman dengan rasa yang enak dan sukses dalam memuaskan customer. Saya berharap bisa seperti itu. Selama ini, saya baru bisa kasih pelayanan murah senyum dan kasih stiker,” kata Agung yang mendapat ide logo setelah mendapat gantungan kunci Jack Daniels dari temannya. Kata “Trotoar” yang melekat sebagai nama tak lantas membuat hidangan yang ditawarkan sama kotornya dengan konsepsi trotoar di Indonesia. Kebersihan mendapat perhatian lebih di kedai Agung. “Tutup (botol Yoghurt) ini enggak boleh dicuci pakai air biasa, harus pakai air matang yang steril,” gerundel Agung kepada saya saat melihat pegawai barunya melakukan kekeliruan. Mulai 12 Oktober silam, Agung melatih seorang pegawai junior untuk gerai barunya yang direncanakan beroperasi di daerah Seturan.

Melanjutkan obrolan terkait menu, Agung menceritakan salah satu minuman buatannya yaitu Rock n’ Roll. “Sebenarnya Rock n’ Roll itu berasal dari banyaknya permintaan, ‘Om yang pakai kopi-kopi belum ada ya?’ Saya bilang belum ada, saya pikir, bisa enggak ya bikin mocktail yang basic-nya dari kopi? Akhirnya saya implementasikan aja. Karena kebetulan saya memang seneng kopi. Saya juga pengen bisa ngopi di sini. Pertama-tama saya sajikan rasanya aneh, tapi manisnya dapet,” kata Agung tentang minuman kombinasi antara Yoghurt, Kopi, dan Soda kreasinya itu.

Rock n’ Roll sendiri mempunyai ciri khas purnarasa (aftertaste), yakni setelah minuman ini tertelan, rasa pahitnya masih terasa di mulut, efek ini ditimbulkan oleh sifat kopi—caffeine pada khususnya—yang memiliki sifat purnarasa. Ha ini diakibatkan oleh sinyal dari sel penerima rasa, yang terletak di kuncup perasa papila-papila lidah dan langit-langit mulut, ke otak belum terurai secara penuh. Alhasil, efek rasa masih tertinggal meski minuman telah ditelan. Intensitas rasa yang mendukung purnarasa pada Rock n’ Roll ini diperkuat oleh campuran Soda, pun Yoghurt yang terdapat di dalamnya.

“Beberapa memang ada yang saya combine, kecuali yang dua di atas,” kata Agung seraya menunjuk daftar menu, “Virgin Pina Colada dan Sherly Temple (Shirley Temple—red) memang sudah lazim, baik di Indonesia, Los Angeles, maupun di Prancis, basic-nya seperti itu, ‘Virgin’ pasti tetep pakai nanas, pakai lime, pakai coconut cream. Yang ‘Sherly’ mesti pakai Sprite kalau enggak 7 Up, dikasih lime, terus dikasih grenadine (sirup untuk memberi warna merah),” kata Agung. “Untuk grenadine saya pakai pengganti, cenderung ke sirup Coco Pandan, yang cukup netral.”

“Yang lain, saya coba dari tempat kerja saya dulu. Saya coba kreasikan, misalkan Black Beauty itu basic-nya dari Lemonade Coke, saya kasih grenadine, namanya pun saya ganti,” ungkap Agung. Kenapa Black Beauty? Agung yang dijuluki Pedro karena mirip Parto “Patrio” ini kemudian menjelaskan, “Karena enggak semua yang item itu jelek. Itu kenapa saya juga pakai dasar item—sembari menunjuk logo Trotoar Ice Bar—walaupun basic-nya item ada putihnya, tapi putih itu tetep keliatan di antara bagian item yang lebih banyak.”

deretan menu Trotoar Ice Bar

“Highway Star juga,” tambah Agung, “Saya hanya berpikir mungkin filosofinya, saya bisa jadi bintang di jalanan yang berguna buat orang banyak. Maksudnya trotoar ada di sini, orang haus bisa datang ke sini, pergi lagi, pulang ke kos bisa dengan gembira,” ungkap Agung perihal nama-nama minuman di kedainya.

“University Punch itu pas beberapa bulan dari banyaknya customer, ada yang datang dari UGM, UII, UPN, Amikom. Akhirnya kenapa enggak aku bikin minuman, minuman yang intinya dengan banyaknya tempat pendidikan dijadikan satu, dan akhirnya menjadi minuman yang namanya itu tadi. Ya, tadinya saya enggak bisa bikin mocktail ini. Iseng, dapat inspirasi, harus ketemu dulu idenya. Darimana idenya, ya dari jalanan.”

Tak hanya nama, keterangan yang tertera pada menu pun tidak biasa. Tulisan “All above price include of fakir miskin tax and service” menghiasi bagian bawah menu. Agung menjelaskan, “Kalau di restoran kan 21% government tax and service, pajak untuk negara 10% dan 11% untuk uang servis. Saya bikin ini dengan harapan, ini mengingatkan saya apa yang saya dapat dari trotoar. Berapa persennya saya kasih ke orang-orang yang benar-benar memerlukan.” Ia menambahkan, “Tapi bukan berarti pengemis. Karena setelah saya di jalan, saya bisa melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa yang namanya pengemis itu sudah bukan fakir miskin lagi, itu sudah suatu profesi. Karena hasil mereka bisa lima puluh ribu per hari, coba tiga puluh hari, sementara UMR saja berapa?” Ia pun melanjutkan, “Saya lebih suka ngasih ke orang yang lagi bingung misalnya atau saya potong rambut, saya kasih tips buat masnya. Mungkin mereka lebih kurang (dari para pengemis tadi—red) tapi mereka mau berusaha. Itulah makanya di sini ada minuman Mr. Brownstone. Ini saya dedikasikan untuk orang-orang yang mau bekerja keras, menghidupi dirinya atau keluarga misalnya, orang sudah tua yang masih mau ngayuh becak misalnya.” Mr. Brownstone sendiri adalah mocktail kombinasi dari Chocolate, Coconut Cream, dan Pineapple Juice. Sensasi rasa yang didapat dari Mr. Brownstone mirip dengan sensasi rasa yang dihasilkan oleh Choco Banana Smoothies. Hanya saja pada Mr. Brownstone cita rasa pisang yang lembut  tergantikan oleh rasa segar dan masam dari buah nanas.

Selain Rock n’ Roll dan Mr. Brownstone sensasi rasa yang didapatkan dari menu buatan Agung Pedro sendiri cukup unik. Beberapa menu akan memunculkan kembali rasa-rasa yang sebenarnya bukan cita rasa dari asli sebuah minuman dan terkadang menimbulkan purnarasa. Misal, Walk On By, campuran Coke, Mint, dan Strawberry Juice ini akan menghasilkan cita rasa yang mirip dengan obat batuk Vicks Formula 44. Hal ini disebabkan oleh sirup jagung fruktosa tinggi yang terdapat pada Coke juga terdapat dalam Vicks Formula 44. Kemiripan kandungan zat-zat dalam minuman menjadikan menu-menu “Trotoar” memiliki cita rasa spesial.

Butterfly Whisper, yang namanya terinspirasi dari perubahan kepompong menjadi kupu-kupu, pun punya kemiripan rasa dengan Obat Batuk Hitam (OBH). Seperti menggambarkan namanya, Yoghurt, Coffee, Chocolate, Mint, bersatu padu menjadi “kepompong”. Rasa mint dan coffee tersimpan—seperti di dalam kepompong—lalu keluar sebagai purnarasa, setelah kombinasi rasa manis chocolate dan yoghurt usai terasa di lidah. Permen-permen isi mint bisa menjadi analogi Butterfly Whisper, yakni rasa mint dan coffee baru terasa, seperti mint dalam permen, setelah permen telah dikunyah. Semua cita rasa ini tak akan berubah layaknya es teh (yang kadang memakai gula berlebih, atau mungkin, kurang gula), karena semuanya dibatasi oleh ukuran jigger (gelas ukur) dan shaker (gelas kocok).    

Selain rasa-rasa yang khas, Trotoar juga menyuguhkan cita rasa segar dalam menu mocktail-nya. Sebagai contoh, menu pertama kedai ini adalah Trotoar Earthquake (kombinasi orange juice, pineapple juice, soda dan grenadine) yang mengambil ide nama dan rasa dari gempa tahun 2006 lalu. Segala jenis mocktail ini dapat dibawa pulang dalam kisaran harga Rp 4.000 hingga Rp 6.000.

Puas menjabarkan menu sembari memandangi Jalan Kaliurang, Agung menuturkan mimpinya, “Saya enggak mau misalkan, masnya pesan…misalkan Rock n’ Roll, ‘Ini Rock n’ Roll-nya mas, bayar, ini kembalinya mas, makasih’, saya berharap lebih dari itu. Yang saya cari di sini masalah persaudaraan, masalah soul. Sesuatu itu kalau udah masuk ke soul itu enggak akan kemana-mana. Ya mungkin brand image atau apa itu soul-nya yang dicari.”

“Sebenarnya, mau di mana aja Trotoar Ice Bar itu bisa berdiri bahkan di mall. Cuman kan yang diambil kan view-nya, atmosfernya. Di mall pun kalau view-nya saya bikin kayak trotoar gitu, itu tetap jadi.” Ia menambahkan, “Kalau saya sederhana aja, saya coba mempunyai visi yang baik dan posisi base, kali-kali ada pengunjung trotoar, nongkrong di trotoar. Karena kadang pelajaran itu enggak dari bangku kuliah tetapi dari jalanan pun kita bisa dapat ilmu yang bermanfaat. Seperti tagline-nya, “the place where we share happiness”. Di sini kita juga bisa share. Misalkan, eh, ada uneg-uneg, terus pergi ke trotoar sendirian ngelamun gitu, kalau kita udah kenal, enak toh. Saya juga bisa share. Saya banyak belajar, karena saya pikir orang itu enggak ada yang menguasai semuanya.”

Kenapa memilih nama Trotoar? Trotoar itu filosofinya banyak lah. Trotoar itu jalan panjang yang berguna bagi manusia. Bisa lewat, bisa ketabrak. Kemudian panjang, itu kalau mau diikutin pun ke seluruh dunia enggak akan habis, sama seperti cita-cita saya. Cita-cita tiap orang itu jangan sampai stuck sampai di situ,” jawab Agung. “Karena dream no cost.”

Notabene: Kedai minuman Trotoar Ice Bar buka mulai pukul 16:00 WIB dari Senin hingga Minggu, terkecuali Sabtu malam, “Setiap malam minggu saya mancing mas,” kata Agung sembari tertawa.

Tulisan ini telah melalui proses perbaharuan dan revisi dari versi sebelumnya di  www.balairungpress.com.

Sumber Foto: Wulan Septiningtyas K

 

2 responses to “Jiwa Unik di atas Trotoar Ice Bar

  1. ruben

    April 15, 2012 at 12:50 am

    ass, aq ruben di medan aq jg seorang bartender aq pgen buat menu mocktail yg ingredient ny mggunakan permen mint relaxa. aq jg dh test bbrp mnman mggunakn permen dgn coffe tp hsl ny kurang memuas kn. ada solusi ga y..?

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: