RSS

Kedai Kita, Bukan Kedai Kami

Oleh: Anisa Titisari

Senin pagi, saat para pekerja sedang beringsut ramai menuju kantor, saya mendapati diri saya tengah berada di dalam kereta api listrik. Deretan alamat dalam secarik kertas yang saya selipkan disaku tas, menghantarkan saya menuju kota hujan, Bogor. Teringat Bogor, maka saya teringat pula dengan julukan Kota Angkot. Angkutan mempermudah warga untuk bepergian karena memang struktur jalanan kota Bogor yang menanjak, tikungan yang meliuk-liuk, serta jalan menurun. Minibus berwarna hijau dan biru ini menjadi sarana angkutan massal pilihan yang mendominasi jalan-jalan perkotaan.

Tak berbeda dari angkutan minibus biasanya, yang membedakan adalah angkutan ini terawat. Jok penumpang masih utuh, kulit luarnya masih halus. Dalamnya bersih. Bahkan saya menemukan satu angkot yang dibekali sound system serta interior design ala mobil gahul ibukota. Sempat tercengang memang. Begitu mulianya kendaraan umum ini di sini, tak seperti di kota sebelah. Hampir setiap warga sibuk naik turun, ganti angkot satu ke angkot yang lain. Untuk menuju ke alamat-alamat yang saya catat, saya juga harus beberapa kali ganti angkot.

Kota yang jauhnya 54 km sebelah selatan Jakarta ini juga terkenal punya kekhasan kuliner yang sudah jadi rahasia umum. Saya pun kembali memandangi alamat yang saya punya. Kedai Kita, Jl. Pangrango No 21, begitu bunyinya. Kedai ini termasuk dalam daftar wajib kunjung di dunia kuliner Bogor. Bahkan beberapa teman saya yang tinggal di kota ini mengiyakan. “Kunjungilah. Pizza bakar itu sangat terkenal”, kata mereka. Hmm…perut rasanya beraksi semakin liar saat saya sampai.

Ramai sekali. Pasti kedai ini enak. Mobil pengunjung berderet di halaman parkir yang hanya cukup untuk 4-5 mobil. Bangunan rumah terbuat dari bilik dan anyaman-anyaman bamboo serta jerami macam rumah adat Papua. Karena secara keseluruhan kedai ini cukup luas untuk menampung banyak pengunjung, ruangannya dibagi menjadi tiga section, satu lesehan dan dua lainnya memakai meja kursi.

Pandangan memutar mencari meja kosong. Belum ada. Maklum ramai, jadi saya menunggu sekitar 10 menit. Jikalau memang penuh, kenapa pelayan-pelayan di sini tak menyuruh saya menunggu sementara mereka mencarikan meja kosong? Ah sudahlah, apa salahnya saya berusaha sendiri nge-tag meja di depan saya yang sebentar lagi ditinggalkan ini. Sudah tak sabar rasanya ingin melahap Pizza Kayu Bakar yang terkenal dari kedai ini. Pizza yang dimiliki Kedai Kita merupakan pizza Italia yang tentu saja tipis dan memasaknya pun dengan cara dibakar dalam oven khusus yang menggunakan kayu bakar sebagai pengapiannya. Kriuk! Inilah keunggulan Italian pizza jika dibandingkan dengan roti tebal khas American pizza yang sudah kalah dari segi rasa.

Topping terbaik mereka ada di BBQ Smoked Beef, Margharita, Pepperoni, Smoked Chicken Fungi dengan didampingi Zuppa Soup yang hangat seharga Rp. 22.000,-. Pizza-pizza tersebut dihargai sekitar Rp. 32.000,- hingga Rp. 63.000,-. Selain pizza, western food macam Chicken Breast dan Beef Tenderloin Steak juga menghiasi halaman demi halaman menu. Keahlian mereka tak cuma sampai di situ saja, Oriental dan Indonesian food pun mereka hadirkan dengan menu Special Homemade Hot Plate Noodles seharga (paling mahal) Rp. 27.000,- yang ajib porsinya. Melalui meja saya, pengunjung di deretan meja sebelah memesan mie hot plate ini sambil membelalakkan matanya ketika pesanannya datang.

Cukup sudah memilih dan membolak balik buku menu. Saatnya saya menuntaskan hasrat perut saya. “Mbak, saya mau pesan!”, panggil saya kepada pelayan. “Iya sebentar ya”, ucap si mbak pelayan dengan senyum setengah memaksa. Mata saya mengikuti kemana dia pergi. Ia terlihat wira wiri tak beraturan. 5 menit berlalu menuju ke panggilan ke dua. “Saya mau pesan!”, panggil saya ke pelayan yang lain. Kali ini pria. Ia pun hanya melengos sambil membawa nampan. Hidung saya mulai kembang kempis. Sampai panggilan ketiga, dimenit kelima belas, mata saya sudah melotot. “Saya mau pesan! Terus saja bilang nanti dulu nanti dulu!”, teriak saya yang sayangnya tak didengarkan sama sekali oleh kerumunan pelayan Kedai Kita.

Apa artinya ini? Apa karena alasan ramai pengunjung saya dibiarkan geram dan terlantar hanya untuk menyuruh pelayan mencatat pesanan saya? Beginikah pelayanan Kedai Kita yang terkenal itu? Lalu, apa yang terjadi jika saya memanggil pelayan untuk ke empat kalinya? Tidak, saya tak mau ambil langkah sia-sia tersebut. Kesalahan yang terabaikan sejatinya sudah terlihat jelas di awal. Saya rasa, saya tak perlu (repot) mencicipi makanan ditempat yang tidak memiliki senyumanan sebagai harga yang pantas untuk pelanggan yang menunggu. Saya memilih pergi.

Andaikan saya boleh memilih, saya akan lebih memilih tempat makan biasa tetapi punya pelayanan yang luar biasa. Terkenal dan punya reputasi bagus memang hal yang bisa menjamin diawal, tetapi tidak diakhir. Itu pelajarannya.

Sumber Foto: KenyangBego

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: