RSS

Melalui Makanan, Aku Mengingatmu

“tiap kali ke rumah simbah, selalu inget soto bikinan beliau yang dimakan bersama sepupu-sepupu di atas meja bundar-pendek.” (Litani_Tesalonika | @militanisme)

——-00——-

“Mie rebus itu menceritakan kenangan hangat dan manis.”

Kadang aku sering heran akan kegemaranku makan mie rebus. Mie rebus apa saja; mulai dari bihun rebus, mie tek-tek Jawa, mie ayam berkuah, dan masih banyak jenis mie rebus lain yang sudah kucicipi. Mungkin karena mie rebus itu menceritakan kenangan hangat dan manis.

Iya, aku pecinta mie rebus. Kecintaanku pada mie rebus berawal dari kenangan manis berlangganan makan mie rebus bersama keluarga di pojokan Jalan Gayam, Yogyakarta. Aku sudah lupa apa nama warung tersebut dan bahkan tidak pernah tahu siapa nama penjualnya. Tapi aku masih ingat dengan jelas warung itu punya tiga gerobah berjajar: penjual nasi goring dan mie, penjual bakso, dan penjual wedang ronde. Ketiganya merupakan makanan favoritku, tapi menu paling memuaskan selalu bihun rebus. Bihun rebus yang tidak bias kunikmati tiap hari. Bihun rebus yang hanya bisa kunikmati setelah Bapak gajian atau ada acara-acara khusus. Bihun rebus yang merupakan kemewahan masa kecilku sampai aku harus pindah rumah menjauh. Sampai sekarang aku bukan saja masih ingat bahwa mie rebus itu benar-benar enak, aku mengingat ketidaksabaranku menunggu hari makan mie rebus di warung itu. Aku mengingat Bapak, Ibu, dan diriku berjalan kaki menuju warung itu. Kadang kami harus antri menunggu tempat duduk. Aku ingat bahwa kalau aku sedang lapar sekali aku akan memesan mie rebus yang akhirnya nanti akan dihabiskan Bapakku karena porsinya sangat besar. Aku ingat dan aku rindu. (Maria Renny, 30th, Pegawai Swasta)

——-00——-

“Rasa kangen pada suasana membuat shabu-shabu kadang timbul jika mengingat hal itu, dan juga betapa antusiasnya Papa berbelanja dan memasak.”

Bukan, kami bukan keluarga penggemar narkoba, hanya namanya memang mirip-mirip. Dulu memang ada asisten rumah tangga kami yang waktu itu belom terlalu lama bekerja menganggap Papa bercanda ketika ia dulu berkata “mau buat shabu-shabu”. Tidak rumit sebenarnya membuatnya, tinggal cemplungkan bahan-bahan tertentu seperti bumbu-bumbu, jamur-jamuran, sayuran, dan dagingnya. Tidak rumit pula memasaknya. Tapi itu tadi, mengumpulkan bahan-bahan tadi agak pe er. Biasanya ketika Papa berencana memasak, siangnya (kadang) sekeluarga berbelanja dulu biasanya di Carrefour Lebak Bulus #bukanpostberbayar. Karena agak pe er itulah hanya Papa (sebagai inisiator) yang biasanya semangat berbelanja. Yang lain, (atau paling tidak saya sih) merasa kerepotan kalau musti berbelanja dulu dan menyiapkan peralatan masaknya. Namun semua terbayar ketika kita sekeluarga memakan hasil masakan bersama. Selain hasilnya yang lumayan (kalau kurang tinggal ditambahkan kecap kikoman), ada kenikmatan dari masakan yang bahan-bahannya kita beli sendiri dan kebersamaan yang timbul walaupun kami sekeluarga biasa makan sendiri-sendiri.

Kini sudah 2 tahun lebih Papa pergi, kami sudah tidak pernah lagi membuat shabu-shabu di rumah. Anggota keluarga di rumah pun tidak ada yang suka utak atik memasak atau khusus berbelanja heboh bahan makanan. Rasa kangen pada suasana membuat shabu-shabu kadang timbul jika mengingat hal itu, dan juga betapa antusiasnya Papa berbelanja dan memasak. Hmm kapan ya bisa bikin shabu-shabu bersama-sama lagi di rumah? Diusahakan secepatnya deh🙂 (Panji, 22th, Karyawan Swasta)

——-00——-

“Jangan lupa sholat dan makan sayur ya, Dip..”

Aneka masakan sayur bisa dikatakan hampir selalu ada dalam kenangan masa kecilku. Bunda selalu melarangku untuk jajan sembarangan dan makan-makanan yang menurut beliau jauh dari bersih. Bunda, biarpun beliau adalah wanita karir yang sibuk, beliau tak pernah luput untuk mengontrol makanan yang akan masuk ke mulut kedua anak-anak lelakinya. Dari umur 10 tahun, aku sudah terbiasa makan salad sederhana yang terdiri dari wortel, jagung ,selada air, dan kubis merah. Ya, tanpa dressing tentunya. Kebiasaan masakan sayur tanpa dibumbui apapun ini terbawa sampai sekarang terutama ketika aku berkunjung ke tempat makanan yang menyediakan menu salad.

Berhubung sekarang aku kuliah jauh dari rumah dan menjalani kehidupan ala anak kos, menu makanan yang dipilih pun jadi sedikit lepas kontrol. Hal yang membangkitkan kenangan ketika diomeli Bunda dan segala macam nasihatnya untuk terus makan sayur terbit  ketika melihat menu salad bahkan atau sesederhana melihat nasi sayur. Aku selalu ingat pesan beliau ketika awal-awal melepas keberangkatanku ke Yogya, “Jangan lupa sholat dan makan sayur ya ,Dip”. (Dipa Raditya, 20th, Mahasiswa)

——-00——-

1 | 2 | 3 | 4 | 5 |                                                          6                                                                next page

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: