RSS

Melalui Makanan, Aku Mengingatmu

“Ayah saya sesekali sering memasak mie yang bercampur sayur mayur.”

Dari berbagai menu, sebenarnya menu yang paling sering saya masak adalah mie goreng. Ya, hanya mie goreng. Lebih karena yang paling mudah. Eksperimen hanya sebatas mencampur mie dan berbagai macam sayur mayur yang ada. Dan menu ini mengingatkan saya kepada seseorang yang paling saya sayangi. Beliau adalah Ayah saya.

Ayah saya sesekali sering memasak mie yang bercampur sayur mayur seperti yang saya lakukan tersebut. Dari tiap kali saya memasak menu tersebut, sebenarnya ingin mendapatkan citarasa seperti yg beliau masak. Tapi tak pernah sekalipun berhasil. Saya memang belum pernah menanyakan apa saja bahan-bahan yang dia pakai dulu. Dan memang setiap tangan memang akan menghasilkan citarasa yang berbeda. Apa mungkin karena beliau selalu memasak memakai tungku? Ya, dulu beliau selalu begitu, walau sudah ada kompor minyak (tabung LPG belum populer) tetap beliau memilih memasak menggunakan tungku. Tapi tak apa, citarasa masakan Ayah saya yang walaupun sudah tak bisa saya rasakan lagi sekarang, tetap bisa saya ingat dan tinggal di hati. (Panggih Kurnia Adhi, 24th, Penyiar Radio)

——-00——-

“Ibuku, taburan gula di hidupku.”

Sebagai seorang yang jomblo (#eh), makanan berkenangan pertama yang teringat adalah roti dengan taburan gula pasir. Menu ini biasa ditemui ibuku ketika dia sakit di waktu kecil. Dulu waktu kecil kita pasti pernah sakit atau bahkan sampe kehilangan nafsu makan. Ibuku sebagai penunggu dapur akan berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan nafsu makan anak semata tiga-nya ini. Dengan berbekal roti dan gula beliau mampu membuat menu menarik, yaitu roti dengan taburan gula. Sebagai makhluk yang terbiasa makan enak, pertama kali agak miris ngeliat menu ini. Percaya nggak percaya, menu ini mampu mendongkrak nafsu makanku. Mungkin kembalinya nafsu makanku kurang obyektif, mengingat sifat memamah biak yang telah kuwarisi secara genetis. Tapi ketika kehilangan nafsu makan  mendera, aku akan teringat dengan menu ini. Tak dinyana hal ini memiliki efek negatif, dimana diriku tumbuh sebagai gadis lugu nan menarik tapi jarang kehilangan nafsu makan. Sungguh aku ingin kehilangan nafsu makan seperti gadis-gadis idaman di sinetron itu. Mungkin ini adalah jalan sehat yang telah diberikan oleh Tuhan untukku, amin. Sebuah roti dengan taburan gula, sebuah kesederhanaan dengan taburan kasih sayang. Ibuku, taburan gula di hidupku. (Ratri Indraswari, 25th, Mahasiswi)

——-00——-

“Suasananya seperti pasar malam! Party every night.”

Waktu kecil, saya sempat tinggal di kota Kijang. sebuah kota kecil di Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Dulu, Kijang merupakan produsen Bauksit terbesar di Indonesia. Meskipun kecil, namun Kijang memiliki food heaven yang tak kalah dengan Batam atau Tanjungpinang. Let’s start with Pujasera Akau. Pujasera outdoor yang buka tiap malam di depan Pasar Akau, tepat di sebelah Masjid Nurul Iman. Kalau siang hanya berupa lapangan basket terlantar dengan meja-meja dan gerobak-gerobak kosong. Saat malam, Pujasera itu mulai hidup! Suasananya seperti pasar malam! Party every night. Pelbagai makanan dan minuman khas tersedia di sana. Memang ada makanan-makanan umum, seperti sate dan lainnya. Tapi di Kijang, beberapa makanan tersebut disajikan sedikit berbeda. Contoh: di sana, semua sate telah dipanggang terlebih dahulu, tidak peduli ada yang pesan atau tidak. Jika ada yang pesan, barulah disajikan ke piring, dan disiram saos kacang panas ngebul-ngebul! Lalu ada Teh Obeng atau Teh O. Teh Obeng itu Teh es manis, sementara Teh O adalah teteh manis hangat, eh, teh manis hangat! Hahahaha! Pokoknya, Pujasera Akau adalah tempat hang out favorit masyarakat Kijang.

Sebagai kota di sebuah pulau kecil, tentu saja tidak sulit mendapatkan menu seafood di Kijang. Ikan, udang, cumi, bilis (teri), dll. Semua ada! Tapi ada satu menu seafood yang saya jamin tidak akan ditemui di Jakarta sekalipun (so far belum saya temukan di sana), yaitu Gonggong! It’s a rare delicacy! Gonggong itu adalah keong laut yang banyak ditemui di Kepulauan Riau. Biasanya Gonggong dibersihkan, direbus dengan air garam, lalu disajikan dengan saos nanas yang segar. Rasanya? O my God! Kalian belum ke Kepulauan Riau jika belum merasakan Gonggong! Ah, jangan lupa pula untuk mencicipi otak-otak di Pantai Trikora! Semua pasti sudah tahu dong, apa itu Otak-Otak? Ya, di Kijang pun ada Otak-Otak. Bedanya, di sana tidak perlu lagi dicocol saos, karena sebelum dibakar, adonan ikannya sudah dicampur terlebih dahulu dengan saos. Jadi, seperti kata Deddy Mizwar: “Tinggal ‘Lep!”. Otak-Otak yang paling enak banyak terdapat di Pantai Trikora. Bayangin betapa asyiknya makan Otak-Otak sambil menikmati panorama pantai yang asri. Saking enaknya, Nenek saya yang dari Jakarta sempat memborong 2 dus Otak-Otak dari Kijang untuk dibawa ke Jakarta. Jadi, bila nanti kalian memiliki kesempatan jalan-jalan ke Batam atau Singapura, sempatkanlah diri kalian untuk menyebrang ke Bintan, dan pergilah ke Kijang. Bagi para pecinta seafood, Anda takkan menyesal datang ke sana! (Adham T. Fusama, 24th, English Teacher)

——-00——-

first page                                                                 8                                                         previous page

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: