RSS

Melalui Makanan, Aku Mengingatmu

Memang tak mudah mengingat hal yang telah lalu. Tak mudah pula menyebutkan dengan gamblang kenangan yang tersimpan begitu rapat dan baik. Ada begitu banyak perasaan yang tercampur seakan-akan lidah tak punya kuasa untuk mengucapkan sepatah kata. Sejenak termenung saat menghadapi sebuah kertas kosong. Tetapi, jari jemari entah kenapa mulai bergerak. Apa yang (akhirnya) tertulis, itulah bukti nyata, “Better left unsaid on the paper.”

Mungkin banyak dari pembaca yang memiliki hasrat seperti itu terhadap seseorang. Tak bisa mengatakan, hanya bisa menulis sebuah diary yang menggambarkan betapa memori baik dan buruk tertata rapi dalam setiap paragraf. Begitu indah, hingga kenangan-kenangan berbeda dari yang tertulis di halaman ini, dapat merangkai sebuah kesimpulan, “Melalui Makanan, Aku Mengingatmu”.

Sebuah kumpulan cerita singkat yang diambil dari kisah pembaca yang berbaik hati bersedia berbagi kisahnya ke dapur redaksi dan akun Twitter kami. Cerita-cerita detail nan sederhana yang berkaitan dengan makanan dan seseorang secara emosional, dihadirkan sebagai jembatan memori untuk pembaca dan orang yang (patut) dikasihi. Mungkin Anda harus menyisihkan waktu saat membaca sekumpulan kenangan di bawah ini. Karena memang waktulah yang menjadikan kenangan adalah berharga. Selamat membaca.

——-00——-

“buat nyenengin pacar yang suka sama kue Janhagel, aku latihan sama camer. Dengan bahan yang disuruh, jadi 10 plastik. 1 kg isinya Janhagel semua.” (Andisya Putri P | @andisya_putri)

——-00——-

“Makan yang banyak ya mas, biar nggak gampang sakit.”

(Pemenang Program Tulisan Makanan dan Kenangan)

Mantan kekasihku adalah seorang perempuan yang sangat suka makan. Meskipun dia sangat peduli dengan berat badannya, tapi baginya makan terlalu enak untuk dilewatkan dengan diet. Lain halnya denganku, aku tak pernah terlalu memikirkan makanan. Makanku tidak teratur, badanku dulu tak begitu berisi, aku jadi gampang sakit. Namun, semenjak aku menjalin kasih dengannya, aku menjadi rajin dan teratur dalam urusan makan. “Aku nggak suka kalo kamu sakit-sakitan, makan yang banyak ya mas, biar kamu nggak gampang sakit” ucapnya. Kami sama-sama jatuh cinta pada nasi goreng. Hanya satu kali untuk membuat kami jatuh cinta dengan satu makanan, dan setelah itu  kami akan setia pada makanan itu.

Pilihan kami jatuh pada nasi goreng emperan yang berada di Jalan Gondang Raya, Condong Catur, dekat rumah kontrakanku. Nasi goreng dengan campuan bakso, sosis, dan telur mata sapi di atasnya menjadi menu utama makan malam kami, hampir selama setahun kami terus menikmati makanan itu. Penjual nasi goreng itu pun telah hafal pada kami, karena saking seringnya kami makan disana. Bahkan sampai suatu ketika aku berpisah dengannya, aku masih saja menikmati Nasi Goreng kesukaan kami. “Lho, Mbaknya mana mas, kok sendirian?” tanya penjual nasi goreng. Aku hanya bisa tersenyum menjawab pertanyaanya. Aku memang telah berpisah dengannya, namun aku terus mengingat kata-katanya agar makan teratur, agar tak mudah sakit. Kini sakitku karena kehilangan dirinya, tetapi tetap, aku makan di tempat kami makan, dengan menu yang sama. Agar aku dapat sembuh, walaupun kenyataanya di tempat itu aku hanya menyantap kenangan dan mereguk kesedihan, tapi tak masalah. Malam ini aku akan makan disana lagi. (Irfan rizky, 23th, penganggur)

——-00——-

“aku jadi saksi manisnya mama papa dulu tiap pagi bikin susu kacang kedelai untuk dijual. Aku nganterin ke pelanggan pakai sepeda.” (Amalia Sekarjati | @amaliagalaujati)

——-00——-

“Bodo amat dengan urusan gak matching sama tempat dan event, toh aku tetap makan dan ngobrol bersamanya.”

Si Y adalah pacarku. Y adalah tipe “indonesia” yang kalo gak makan nasi gak kenyang. #MakanandanKenangan yang jadi pilihanku adalah Tahu Bacem. Entah ultah atau anniversary ke berapa kita sok-sokan candlelight dinner disuatu tempat di jogja tanpa tau menu makanannya. Merasa tak ada yang cocok, aku memesan paket nasi lauk sayur dengan cemilan 2 buah tahu bacem. Seingatku dia juga memesan makanan yang sama. Bayangkan tempat romantis, candlelight dengan lauk tahu bacem. Tak disangka si cemilan tahu bacem kami akui juara! Enak, manis, gurih. Bodo amat dengan urusan gak matching sama tempat dan event, toh aku tetap makan dan ngobrol bersamanya. Tahu bacem pula yang yang disuguhkan ibunya ketika aku kerumahnya, yang kuambil dengan rasa malu malu mau karna tahu bacemnya enaak tapi jaim untuk mengambil lebih dari satu, tapi menyesal sepulang dari rumahnya. Hari ini aku nganter dia ke bandara untuk Kerja Lapangan selama 2 bulan. Padahal besok tanggal 10 Februari adalah ulang tahun ku. Untuk pertama kali selama 6 tahun, ulang tahun tanpa dirinya. Dan mungkin bersama tahu bacem saja. Take care Y! (Lia Katarina, 20th, Mahasiswi)

——-00——-

                                                                                1                                                               next page

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: