RSS

“Membeli satu donat sama saja membeli satu hal yang tak utuh.”

Oleh: Anisa Titisari

donat buatan ibu

Siang ini, begitu sampai di rumah, ibu saya nyeletuk, “Sa, ada donat tuh, sambil menyodorkan wadah berisi 4 buah kue yang bolong tengahnya itu. Kemudian satu gigitan dari saya merusak bentuk bulat “sempurna” kue donat. Maklum, saya tidak tahan melihat donat buatan ibu saya. Iya, hanya buatan ibu saya saja.

Donat meisis coklat itu tiba-tiba mengingatkan saya pada ucapan seorang kawan beberapa bulan yang lalu. Tentang donat, begini ujarnya: “Saya tidak suka donat.” Saya berkerut. “Saya merasa dibohongi. Membeli satu donat sama saja membeli satu hal yang tak utuh”, tambahnya.  Pernyataan menarik. Tapi, saya juga punya sesuatu yang tak kalah menarik.

Donat adalah salah satu dari sekian banyak “the sweetest thing” yang bisa di dapatkan dalam hidup. Mirip keberadaan laki-laki dan perempuan yang dengan manis mewarnai setiap inchi bumi. Mereka semua indah dengan bentuk dan rupa masing-masing. Pun dengan donat yang “terlahir” dengan wujud -yang katanya- tak sempurna. Berbentuk bulat cincin dengan lubang di tengah dan berwarna kuning (keemasan) dengan hanya berhias taburan meisis atau coklat leleh, donat menyembul di antara barisan penganan manis lainnya yang berwujud nyaris sempurna.

Lihatlah, betapa menggemaskan cupcake-cupcake yang “berperawakan” tinggi, gagah nan padat dengan icing lucu, masih disempurnakan oleh selimut warna-warni yang menutupi awak. Atau rupa bulat Apple Pie seperti perempuan berkulit coklat yang berkilat eksotis di bawah sinar dengan kejutan super manis yang tersembunyi di dalam dirinya. Lalu, donat seperti apa? Ya seperti perempuan manis (juga). Seperti cupcake dan apple pie (juga). Sama-sama saling memiliki identitas yang jelas. Hanya saja donat memiliki nyali untuk tidak menjadi template. Berbekal hiasan seadanya, tak semeriah yang lain, donat tetap bisa mempercantik dirinya sendiri tanpa perlu meniru.

Terlahir dengan bentuk yang tak utuh, donat seakan menyentil saya. Tak muluk-muluk memamerkan diri, Ia begitu luwes memberikan pesona dalam kesederhanaan. Nyali yang seperti itu yang tak dimiliki oleh saya, mungkin juga oleh banyak manusia di bumi. Donat menjadi satu contoh dimana berdamai dengan wujud sendiri adalah wujud yang sebenarnya.

Setidaknya, korelasi macam inilah yang seharusnya ada dalam hubungan antar manusia. Mengutuhkan yang tak utuh. Klise, ya?

 Who can resist a sweet little Cornflakes Donut anyway?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: