RSS

Sebungkus Nasi Uduk Untuk Jakarta

Oleh: Anisa Titisari

Nasi Uduk Kebon Kacang, salah satu nasi uduk legendaris di Jakarta

Nasi Uduk Kebon Kacang, salah satu nasi uduk legendaris di Jakarta. (Foto: dok. KenyangBego)

Sudah hampir 8 bulan saya kerja. Sudah akan jadi karyawan tetap. Tapi tetap saja saya masih nebeng jemputan kantor tiap pagi. Selama itu, ada hal unik yang saya temui selagi saya menunggu mobil jemputan datang.

Tersebutlah sebuah kawasan di pusat Bekasi Barat yang dijadikan tempat ngetem para pekerja. Sebagian besar buruh pabrik hingga ke level staff menunggu layanan jemput dari perusahaan. Ada asap pasti ada apinya. Tak sedikit pedagang-pedagang kecil yang mencari keuntungan dari perut-lapar-tak-sempat-sarapan mereka. Termasuk saya yang harus bangun terlalu pagi dan terburu-buru waktu hingga tidak kober nyarap.

Dari sekian jumlah pedagang, ada empat yang menarik perhatian saya. Alasannya dari segi kuantitas pembeli, keempat pedagang ini saling berebut klasemen. Dua tukang nasi uduk, satu tukang bubur ayam plus lontong sayur, dan satu lagi jualan soto khas Surabaya dan ramesan. Terdengar menu berat ya? Memang ini menu “biasa” sarapan pribumi. Nggak makan pagi, nggak makan siang, nggak makan malem, pokoknya harus nasi. Oh, ini bukan tentang kenapa harus nasi. Ini tentang, kenapa nasi uduk selama 8 bulan tidak bergerak turun satu poin pun dari klasemen. Nasi dengan rasa gurih ini memang sudah jadi mark sendiri untuk masyarakat Jakarta, Betawi khususnya. Karena menurut sejarah, nasi uduk berasal dari Betawi. Tetapi ada juga yang bilang nasi uduk berasal dari tanah Melayu. Tidak salah. Memang bangsa Melayu punya pengaruh sangat besar dalam pembentukan etnis Betawi. Maka jangan heran apabila Encik beralih kata menjadi Encing.

Porsi nasi uduk kenyangnya selalu pas, mbak. Nggak ribet juga. Simpel”, ujar salah satu pembeli saat saya tanya. Alasan macam ini bisa dipahami apalagi pada saat rush hour seperti Senin pagi. Sarapan adalah penentu apakah harimu akan berjalan dengan baik atau tidak. Perut kosong yang diisi makanan dipagi hari dapat membakar kalori secara efisien. Energi yang dihasilkan dari metabolisme semacam ini akan membantu menyeimbangkan pola hidup. Tapi bukan berarti harus overload. Bukan kuantitas, melainkan kualitas. Dalam kasus ini, nasi uduk tampak sebagai menu makan pagi paling ideal dibanding bubur ayam, soto ataupun lontong sayur. Seporsi nasi uduk cukup untuk membungkam suara perut pagi tanpa terasa berlebih. Dengan cekatan, Ibu penjual nasi uduk menambahkan satu sampai dua lauk menurut permintaan pembeli.

Pemandangan yang saya lihat hampir setiap hari ini meyakinkan saya bahwa, apa yang dikatakan Seno Gumira Ajidarma di salah satu chapter bukunya, Affair; Obrolan Tentang Jakarta yaitu The Art Of Nasi Uduk adalah mutlak kevalidannya. Nasi uduk mengembalikan orang Jakarta sebagai manusia, begitu premisnya. Adalah benar dimana semua citra kosmopolitan (mengutip kata beliau) yang susah payah dibangun oleh para pekerja modern, rela dirusak oleh sebungkus nasi uduk sederhana yang diikat karet gelang atau distaples. Bahkan tak ada malu-malu saat salah seorang pembeli berebut tempe atau bakwan goreng yang tersisa satu. Sejenak atribut kosmopolitan mereka taruh begitu saja.

Pernyataan beliau juga menjelaskan, mengapa ada dua penjual nasi uduk dalam satu kawasan. Dominasi ini terang menyebutkan keinginan dan kebutuhan manusialah yang berkuasa. Begitu hausnya mereka akan ke”sakral”an (budaya) nasi uduk sampai harus ada penjual cadangan. Sistem alam ini terpaksa menggeser soto, bubur ayam dan lontong sayur tenggelam dalam label alternatif menu sarapan.

Bermodalkan sebuah meja kecil, cukup untuk tempat menaruh termos nasi, lauk pauk seperti, telor balado, orek tempe, bihun goreng, sambal, serta tak ketinggalan kerupuk dan disajikan tanpa plating ciamik. Nasi uduk tak memerlukan dekorasi muluk. Karena lagi-lagi kesederhanaan menjadi benang merah antara manusia dengan makanan.

Hal lain disamping konsep kesederhanaan nasi uduk adalah kekuatan. Berasal dari nasi yang diaron agar hasilnya “kemepyar”, tidak lantas membuat nasi uduk ikut bubar dalam segi kualitas. Boleh Anda mencari nasi uduk di Jakarta dengan style paling minim sekalipun, dijual di pelosok gang becek, Anda akan tetap mendapatkan nasi uduk yang “beres” dari segala aspek. Ini dikarenakan nasi uduk merupakan produk boga yang memang sudah memiliki akar pijakan sendiri. Nasi uduk sampai kapan pun akan tetap menjadi nasi uduk dengan resep yang sama dari jaman nenek moyang dan tidak akan berdalih menjadi Nasi Uduk Tuna Pedas agar terdengar mengikuti jaman.

Sebungkus nasi uduk berhasil membuat manusia kembali ke kodratnya yaitu kebebasan diri. Dan bukan tidak mungkin, kebebasan yang didapat hanya pada saat tertentu itu menjadi tanda bahwa manusia Jakarta masih bisa bertindak sesuai naluri, keinginan dan kebutuhan masing-masing. Jalurnya sebagai kekayaan kuliner Indonesia pun jelas dan kuat. Tidak melenceng bahkan enggan untuk terinspirasi dari pihak luar. Saking kuatnya, kini nasi uduk sudah menjelma menjadi perwujudan pagi, siang dan malam wajah Jakarta.

 

2 responses to “Sebungkus Nasi Uduk Untuk Jakarta

  1. Elsa Mareta

    December 9, 2012 at 11:23 am

    Kakak Icha ye ;D

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: