RSS

Tag Archives: kafe

Tak Ada Nostalgia di Ragusa Es Italia

Oleh: Anisa Titisari

Sama-sama populer. Itulah jawabannya jika ditanya tentang persamaan celana cutbray vs celana pensil (maaf, saya tidak mengerti istilah yang benar apa). Jaman bergerak. Sejarah, masa lampau, ke-tradisional-an pun kian dianggap modern. Jika saat ini celana pensil merupakan hal terbaru yang populer, sebaliknya, celana cutbray akan mengarah pada kosakata vintage, barang lawas yang disulap menjadi barang baru yang paling baru. Berkedok bosan dengan kemutakhiran, muncul lah quote abg jaman sekarang, “yang old school itu yang gaul.” baca selengkapnya

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on June 10, 2012 in Icip-Icip, Uncategorized

 

Tags: ,

Antara Ciz Keik dan Cheese Cake

Strawberry Cheesecake

Oleh Anisa Titisari

Ketika resep cheese cake jatuh ke tangan bangsa Romawi pada saat menaklukkan Yunani, mereka memberi nama kue ini (yang ternyata diperoleh dari istilah Yunani) dengan sebutan placenta. Placenta kurang lebih sama dengan cheese cake, dipanggang pada alas pastry atau terkadang di masukkan ke dalam kantong pastrybaca selengkapnya

 
2 Comments

Posted by on December 18, 2011 in Icip-Icip

 

Tags: , ,

Kualitas Cinta dalam Scoop Gelato

Oleh: Anisa Titisari

Artemis adalah sebuah sebutan dari mitologi Yunani untuk putri Zeus dan (istrinya) Leto yang berarti Dewi Bulan. Entah mengapa, nama dewi yang sering digambarkan dengan bulan sabit di kepalanya ini, kemudian digunakan untuk mengawali karir berdirinya sebuah kedai Italian Gelato & Sorbet di kota Yogyakarta. Dengan mengganti akhiran “-is” menjadi huruf “Y” pada Artemis, kedai berkonsep Eropa, Italia ini hadir untuk pertama kalinya di ruang publik Yogyakarta pada 18 Desember 2010, menempati sebuah tempat kecil di kawasan ramai pengunjung, Malioboro. Lokasinya tepat di Jl. Perwakilan No. 5 sebelah utara Hotel Ibis.

Gelato adalah es krim, bukan. Gelato adalah Gelato. Sebuah Italian frozen dessert yang mengandung komponen kimia berbeda dengan es krim. Rendahnya kandungan lemak, kalori, dan gula mengangkat Gelato menjadi lebih tinggi derajatnya dibanding es krim. Sekitar 4 hingga 8% lemak dari 14% kandungan lemak pada es krim biasa, dapat dikonsumsi oleh penikmat. Begitu pun dengan Sorbet yang hanya mengandung air dan buah saja. Tak seperti es krim biasa yang harus dibekukan secara terus menerus dengan suhu tinggi, Gelato dan Sorbet memangkas suhu mesin pendingin menjadi hanya sekitar minus 14 derajat celcius dari minus 20 derajat celcius.

Pemiliknya, Gregorius Gunawan menekankan satu hal, kuliner adalah hidupnya dan Gelato adalah cintanya. Rio, ia biasa dipanggil, melakukan perjalanan menuju Italia bersama kawan-kawannya saat menempuh pendidikan Double Degree di Belanda. Pertama kalinya menjejakkan kaki di Italia, pertama kali juga ia mencicip kelezatan sebuah Gelato. Saat itu ia bertutur, “makan siang cukup dengan Gelato saja”. Begitu terpesonanya hingga ia rela mempelajari seluruh resep pembuatan Gelato di negara sepakbola tersebut. Pria yang juga menempuh jurusan Manajemen, Universitas Gadjah Mada ini kemudian membawa pulang hadiah, resep Gelato ke Indonesia dengan satu misi, memperkenalkan Gelato.

Kedai ini mengklaim sebagai “The first and definitely the BEST Italian Gelato in town with superb ingredients and lots of love”. Dan memang benar, tak hanya slogan saja, Artemy menyuguhkan kualitas Gelato yang dapat dilihat mulai dari bahan pembuatan Gelato yang sengaja menggunakan bahan impor, cara pembuatan Gelato yang dilakukan sendiri (homemade), tentu saja dengan resep orisinil sang empunya kedai serta aspek kesehatan yang juga sangat diperhatikan dengan memperhitungkan secara pasti kadar lemak, gula, maupun kalori yang terkandung. Hasilnya, Gelato yang dihadirkan Artemy adalah Gelato yang hanya mengandung lemak susu tanpa penambahan zat apapun dan Sorbet yang dihasilkan pun adalah Sorbet yang memang mengusung rasa buah asli dan air. Sang pemilik resep bahkan hanya memberikan tambahan zat pewarna makanan untuk dua jenis rasa Gelato saja, yaitu Cotton Candy dan Mint. Maka tak heran, Gelato buatannya memang tampak pucat.

September 2011 lalu, kedai ini membuka cabang keduanya di Jl. Kranggan No. 58, Yogyakarta. Nuansa Eropa sungguh dominan. Pagar kayu pendek berwarna coklat berjejer menutupi barisan kursi cantik di bagian teras kedai. Hiasan lampu kecil-kecil berwarna kuning bak bintang dimalam hari menambah hangat dan nyaman suasana teras Artemy. Begitu masuk, mata pun tertuju pada warna warni pucat Gelato & Sorbet di dalam dua buah mesin pendingin. Tempat ini tiga kali lipat lebih besar dari tempat pertama, Artemy Malioboro yang hanya dapat menampung satu buah mesin pendingin dengan total 12 varian rasa saja. Sedangkan di sini, disediakan 12 varian rasa Gelato & 12 varian rasa Sorbet yang berbeda-beda setiap harinya. Mata kemudian beralih pada deretan pajangan Hand Grinder (alat pembuat kopi) yang dijual di kedai ini. Macam-macam Hand Grinder dengan berbagai bentuk dan kualitas bagus ditampilkan di sebuah rak tinggi memenuhi tembok sebelah kanan ruangan. Mengutip perkataan Rio, “kalo barang nggak bagus, aku nggak akan ambil. Aku bisa menjamin”.

Cabang ini memang menambahkan aneka menu kopi, tak seperti Artemy Malioboro yang hanya menyuguhkan menu Gelato & Sorbet dengan aneka toppingnya. Deretan menu Espresso, Cafe Latte, Machiato, Moccachino atau Americanos bisa langsung dipesan dengan kisaran harga Rp. 13.000,00 – Rp. 20.000,00 saja. Atau silahkan saja coba secangkir Ristretto, a very “short” shot of espresso, strong than stronger yang dapat dinikmati dengan harga Rp. 18.000,00. Ada juga Conpanna, suguhan espresso dengan whipped cream di atasnya serta Viennacinno, espresso dengan chocolate milk and white foam yang sangat dicintai pengunjung Artemy. Satu scoop Gelato di kedua tempat sama-sama di hargai Rp. 10.000,00 dengan tambahan Rp. 3.000,00 untuk setiap toppingnya. Terdapat sekotak kacang almond, marshmallow, meises, dan chocolate candy yang bisa ditambahkan di atas gundukan Gelato Dark Chocolate, pilihan rasa terfavorit kedai ini. Kombinasikan pula dua scoop antara rasa Ferrero Rocher Gelato dengan Blood Orange atau Lemon Sorbet yang menawan hanya dengan Rp. 17.500,00. Pilihan lain rasa Gelato yang tak kalah dominan di kalangan pengunjung adalah Rum, Capuccino, dan Snikers. Untuk Sorbet, rasa Kiwi atau Forest Berry juga bisa sangat menyegarkan. Andai saja semua menu itu masih belum cukup untuk rongga perut dan kerongkongan, coba pesan aneka snack Artemy, seperti Macaroni Schotel, Croissant, Sausage Brood, atau Chicken Pot Pie cukup dengan Rp. 10.000,00 saja.

Artemy Italian Gelato & Sorbet hadir, dibuat serta dihidangkan menggunakan hati dan cinta sang pemilik. Bekal ilmu yang didapatnya dari berbagai pengalaman benar-benar membuat dirinya tak ragu melangkah dan memutuskan untuk total dalam pengerjaan dan pengembangan kedai ini. “Cintai dengan hati apa yang kamu suka. Semua hal bisa dipelajari. Do or never do, kata Master Yoda.” ucap si pemilik sambil menyeruput secangkir capuccino.

Sumber Foto : KenyangBego

Wants to see another food capture?

 
4 Comments

Posted by on October 15, 2011 in Tempat Asik, Uncategorized

 

Tags: , , ,

Oleh-oleh dari R&B Grill Cooking Class

Oleh : Mahar Gireta Rosalia

Siang itu sekitar pukul 11.00 di hari Rabu, 28 September 2011 saya berkumpul di sebuah kelas memasak yang di adakan oleh R&B Grill. Sebuah resto yang menjadi salah satu favourite place bagi para pecinta kuliner khususnya untuk menu steak and grill. Peserta yang datang ke jalan Monginsidi 37, Yogyakarta ini didominasi oleh wanita usia 20 sampai dengan 60 tahun. Pria-pria usia 30 pun tak kalah antusias berkumpul di halaman dalam toko daging berikut restoran tersebut. Letak restonya sendiri berada dibelakang toko daging (meat shop) Indoguna karena awalnya usaha sang pemilik adalah supplier daging impor untuk hotel dan restoran di Jawa Tengah. Saya sendiri hadir bersama seorang kawan dan dua orang kakak dari pacar saya yang kebetulan rumahnya sangat dekat dengan R&B Grill.

Acara ini adalah kali pertama diadakan di resto steak ini dan akan dibuat secara reguler untuk kedepannya. Saya rasa dengan antusias yang cukup besar dari masyarakat akan menjadi pertimbangan ulang manajemen mereka untuk menjadikan kelas memasak ini ‘diseriusi’, dengan membuka kursus memasak, misalnya. Saya pribadi tertarik untuk mengikuti cooking class karena acara memasak semacam ini sangat jarang diadakan serta tidak dipungut biaya apapun. Setelah kami duduk di kursi masing-masing, para pegawai R&B Grill menyambut kami dengan kertas resep yang diatasnya tertulis tiga macam resep yang akan kami buat hari itu, tak lupa dengan snack pembukanya. Chef pun kemudian memasuki arena dan acara resmi dimulai. Tiga macam masakan yang akan dibuat terdiri dari menu pembuka, menu utama dan menu penutup. Untuk pembuka, kami memiliki Nicoise Salad, disambung Beef Picata with Black Pasta and Buttered Broccoli dan Coconut Chocolate Pie untuk mengakhiri perjumpaan kami.

Disediakan tiga buah kompor. Sebelah kanan dan kiri diperuntukkan bagi peserta dan yang ditengah adalah untuk tim chef. Metode kelas memasaknya adalah dengan mempersilahkan dua kelompok, masing-masing terdiri dari 5 orang peserta untuk langsung mempraktekkan menu-menu yang tersedia dengan arahan chef. Untungnya, para peserta tak malu-malu untuk mencoba. Tak ada dua menit setelah instruksi, masing-masing meja sudah penuh oleh peserta yang ingin langsung mencoba memasak. Sedangkan yang lainnya tetap duduk sambil mencatat apa yang dikatakan chef. Lucunya, peserta yang tak malu-malu ini mendadak menjadi tak tahu malu ketika makanan dari dua kelompok peserta dan tim chef sampai di meja hidangan karena kami dipersilahkan mencoba, menghabiskan, dan menilai masakan yang telah dibuat. Tak sedikit pula peserta yang tidak kebagian mencicipi hidangan.

Semakin siang, para peserta makin panas. Harum tumisan bawang putih pada butter di menu kedua membuat peserta yang tidak ikut memasak mulai beranjak dari kursi mereka untuk melihat langsung. Akhirnya, setelah masakan kedua tersaji, lagi-lagi tak lebih dari lima menit hasil karya para kelompok ludes oleh peserta, bahkan kelompok yang membuatnya pun tak sempat mencicipi hasil karya mereka.

Menu penutup, giliran saya maju untuk memasak. Saya memilih menu ketiga karena saya belum pernah berkesempatan membuat pie. Sedangkan olahan pasta dan salad pada menu sebelumnya sudah tuntas di tangan saya. Ternyata membuat pie itu cukuplah mudah. Kesulitannya adalah mendapatkan adonan yang tidak pecah-pecah (kalis) ketika dicetak di nampan pie. Situasi menjadi semakin kacau. Peserta sudah tidak betah untuk duduk diam di kursi. Seluruh peserta benar-benar pergi meninggalkan tempat duduk mereka masing-masing dan kru memasak bertambah menjadi 7-8 orang per kompor.

Sekitar pukul setengah dua, peserta bergegas meninggalkan lokasi dan acarapun ditutup dengan menu penutup yang manis. Sebenarnya saya pun juga harus segera kembali bekerja, namun kaki saya terdorong untuk masuk ke dalam toko R&B Grill ini. Alhasil mata saya menjadi “segar” karena disuguhi pemandangan daging dengan teknologi baru yang mereka kembangkan bernama dry-aging yang dapat membuat daging lebih awet dan dapat disimpan hingga dua bulan. Mungkin nantinya dry-aging juga dapat diaplikasikan bagi manusia, supaya lebih awet ya.

Sekian mengenai cooking class perdana saya dari R&B Grill. Saya berharap, hal ini bisa menjadi info bagi pembaca untuk ikut serta dalam kelas memasak berikutnya. Tak lupa saya lampirkan kopian resep di bawah ini yang diberikan saat kelas memasak.

Kopian Resep

Sumber foto : Pribadi dan Twitter Resmi R&B Grill (@R_and_B_Grill)

 
3 Comments

Posted by on October 7, 2011 in Tulisan, Uncategorized

 

Tags: , , , ,

Si Bulat Hangat, Kudapan Mengenyangkan Pancakes Company

Oleh : Anisa Titisari

Ramah dan ceria, itulah sosok Irma Aulia Pratiwi, salah seorang pemilik kedai (baca: rumah) pancake di bilangan Sagan, Yogyakarta. Sore itu Irma yang berkerudung abu-abu tampak sangat ramah melayani pengunjung. Kedai yang disebutnya sebagai rumah tersebut adalah hasil dari pikiran idealisnya saat dirinya dinyatakan lulus dari jurusan Ilmu Hukum, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Perempuan muda ini tak ingin melanjutkan hidupnya dibelakang meja dan melakukan apa yang tak disukainya. Hasratnya adalah Pancake, makanan favoritnya sedari dulu. Ia pun bersama kedua sahabatnya, Astri dan Stevia yang sama-sama menyukai pancake, berusaha mewujudkan visi mereka dengan mendirikan sebuah tempat usaha penjualan pancake.

Sejatinya, pancake atau panekuk, sudah dikenal terlebih dahulu oleh bangsa Romawi sebelum masyarakat Eropa mengenalnya. Alita Dolcia (makanan manis) –bangsa Romawi menyebutnya- berbentuk bulat, datar dan tipis kemudian dimasak di atas wajan ceper. Bangsa Romawi biasa mengkonsumsi pancake dengan madu atau sirup buah-buahan. Menu ini selalu disantap sebagai menu sarapan dengan berbagai campuran seperti sirup Mapple, Blueberry, Raspberry, atau Strawberry disertai dengan potongan butter di atasnya. Setelah masyarakat Eropa mengenal pancake, makanan ini berkembang menjadi makanan yang memiliki beragam rasa, bentuk, serta nama di berbagai belahan negara Eropa. Seperti di Jerman misalnya, pancake dibuat dalam bentuk yang lebih padat dan terbuat dari kentang. Masyarakat Jerman sering menyebutnya dengan nama Pfannkuchen. Lain halnya dengan pancake tipis, garing dan renyah yang disebut dengan Crepes dan Galletes yang dibuat lebih mengembang dan tebal menyerupai roti oleh masyarakat Perancis. Di Indonesia sendiri, masyarakat lebih memilih meniru pembuatan pancake asli, namun tetap ditambahkan dengan berbagai macam topping rasa.

Kudapan berbobot ini juga tidak bisa disama ratakan sebagai makanan ringan atau selingan. Beberapa diantaranya menganggap menu ini sebagai menu berat. Kebiasaan mengkonsumsi pancake pun tidak sama di berbagai negara. Di benua Amerika, pancake biasa dijadikan sebagai menu sarapan pagi. Pancake juga berlaku sebagai selingan sore di Skotlandia. Sedangkan Belanda memperlakukan pancake sebagai menu makan malam mereka. Mengingat Belanda adalah negara yang sangat kental pengaruhnya untuk Indonesia, masyarakat kita pun akhirnya menganggap pancake adalah kudapan untuk malam hari. Oleh karenanya, pelaku usaha yang menjadikan pancake sebagai bidangnya, biasa memulai membuka tempat usahanya dimalam hari. Begitu pula dengan rumah pancake ini. Kedai ini menerapkan kebiasaan yang sudah ada dengan memasang jam operasional mulai pukul 16.00 hingga 23.00 malam.

Terinspirasi oleh grup band White Shoes and The Couple Company, ditahun 2010, tepatnya 30 Januari, Pancakes Company memulai debutnya untuk pertama kali. Terletak di Jl. Prof. Dr. Yohanes No.1060, Sagan, kedai ini terbilang sulit dikenali walau letaknya di pinggir jalan. Kedai ini juga tidak memiliki kecukupan ruang untuk pengunjungnya serta lahan parkir yang memadai. Menempati bekas toko pakaian, kedai ini diisi dengan sebagian besar perabotan rumah tangga pribadi yang sudah uzur dan tidak tepakai namun masih layak pakai, seperti sofa, meja, kursi jadul, dan hiasan-hiasan rajutan wool milik keluarga yang terpasang di dinding-dinding. Sofa coklat nan jadul menghiasi salah satu sudut ruangan kedai ini. Kursi berwarna hijau muda lembut dengan rangka besi yang masih berkilau juga memiliki kesan tersendiri bagi pengunjung. Hal yang sangat mencolok ketika memasuki kedai ini adalah dinding sepanjang 2 meter lebih yang memuat beragam bingkai poster unik bertema jadul yang sengaja dipasang memenuhi tembok. Ada juga deretan mug-mug dengan berbagai macam gambar yang bisa dipilih dan digunakan oleh pengunjung untuk pesanan minumnya. Konsep kedai yang menyerupai rumah ini tiba-tiba saja terbentuk seiring berjalannya waktu.

Menu yang ditawarkan kedai ini cukup banyak. Tak usah khawatir dengan ragam rasa dan kreasi topping Pancake, Poffertjest, dan Waffle-nya. Pancakes Company punya menu pancake andalan yaitu Pancake Coffee Oreo. Sajian roti gepeng dengan taburan biscuit oreo ini banyak disukai oleh pengunjung. Selain itu, masih ada Pancake Fruity Ice Cream, yaitu pancake dengan topping buah Strawberry, Dragon Fruit, apel, serta satu scoop strawberry ice cream lengkap dengan madu yang pasti sangat memanjakan lidah. Taburan keju yang menghias Cheese Pancake juga patut dicoba. Cukup mengeluarkan kocek  Rp. 13.000,00 saja pengunjung sudah dapat merasakan varian pancake yang paling mahal. Untuk bola-bola Poffertjest, hanya dengan Rp. 6.000,00 silahkan cicipi Original Poffertjest yang menggugah. Jika ingin isian yang lain, Blueberry Poffertjest bisa juga dijadikan pilihan. Saus manis blueberry-nya bercampur lembut dengan hangatnya Poffertjest. Varian Waffle-nya pun tak kalah unik. Waffle  berbentuk hati disajikan dengan saus dan es krim strawberry yang menjadikan Strawberry Waffle sangat dinikmati. Jika menu ala Eropa tersebut masih kurang memanjakan lidah, Pancakes Company masih punya deretan menu kudapan lokal seperti roti bakar dan pisang bakar. Tak ketinggalan varian menu pasta juga ikut meramaikan daftar menu kedai ini. Pasta favorit pengunjung adalah Pasta White Sauce Penne, sajian Penne dengan chicken sausage, mushroom serta cheese mayo sauce bisa dinikmati dengan harga Rp. 15.000,00. Long Maccaroni Smoked Beef dengan cheesy sauce juga tak kalah menarik perhatian pengunjung.

Pengunjung juga bisa memesan aneka pilihan teh dingin seperti Lemon Mint Tea yang sangat segar, Tarrik Tea, atau Choco Mint, campuran coklat dan mint yang sangat menggelitik lidah. Belum lagi tawaran Lampung Coffee, Black Coffee, dan Susu Tubruk yang semuanya disajikan panas hanya dengan harga Rp. 5.000,00. Tentu jangan lupakan Float and Shake yang berkisar di harga Rp. 10.000,00 saja.

Semua menu yang ditawarkan merupakan perkembangan signifikan yang terjadi saat ini pada Pancakes Company. Sebelumnya, mereka hanya memiliki tiga menu saja. Dalam satu hari, kedai ini pernah hanya menjual tiga porsi pancake saja. Perkembangan lain yang terlihat adalah jumlah pengunjung kedai yang tidak dapat dibilang sedikit, dimana sebelumnya mereksa sangat kesulitan dalam menarik minat pengunjung. Tepat saat kedai dibuka, sudah ada gerombolan pengunjung yang menempati kursi-kursi cantik dan langsung memesan menu yang diinginkan. Hal ini tak lepas dari promosi yang dilakukan tidak dengan cara yang usang yaitu menggunakan brosur atau sejenis pamflet seperti yang sudah-sudah. Mereka menggunakan teknologi masa kini yang sedang digandrungi oleh masyarakat melalui promosi social media. Jaringan sosial berupa Facebook dan Twitter yang sedang marak, menjadi jurus ampuh dalam memperkenalkan Pancakes Company ke khalayak ramai di kota Yogyakarta. Disamping itu, cerita dari mulut ke mulut para pegawai Pancakes Company yang notabene adalah mahasiswa aktif diberbagai perguruan tinggi Yogyakarta, dirasa sudah sangat membantu ruang promosi mereka. Pegawai-pegawai tersebut pun cukup sigap melayani para pengunjung yang sering membludak. Tak disangka, disamping cita rasa menu yang disajikan, pelayanan yang ramah dan hangat layaknya pancake, masih merupakan kunci dari sebuah tempat makan agar tetap dicintai oleh pengunjungnya.

Sumber foto: Facebook PANCAKE’S COMPANY

 
4 Comments

Posted by on October 2, 2011 in Tempat Asik, Uncategorized

 

Tags: , ,

KofeNoir Coffee Shop, Ketenangan adalah Keharusan

Oleh : Anisa Titisari

Istilah Kafe berawal dari bahasa Perancis, yaitu café yang secara harafiah sebenarnya adalah (minuman) kopi. Di tempat asalnya, kafe biasanya hanya didatangi oleh para penikmat kopi. Tentu saja karena hal yang ditawarkan hanya berupa (minuman) kopi. Tetapi, kemudian semakin berkembang menjadi sebuah tempat di mana seseorang bisa melakukan kegiatan minum-minum,  tidak hanya kopi, tetapi juga minuman jenis lainnya, seperti juice atau pun teh. Bahkan tak jarang, sebuah kafe mampu menawarkan menu makanan dari snack hingga main course. Di Indonesia, terutama di Jogjakarta, tak diragukan lagi usaha mendirikan sebuah kafe banyak dilirik. Jogja merupakan daerah yang didominasi oleh para remaja dari seluruh Indonesia yang notabene merupakan mahasiswa di berbagai universitas yang ada. Sehingga keberadaan kafe sangat diharapkan sebagai tempat bertemunya remaja-remaja tersebut. Semua sudut kota hampir sebagian besar dipadati oleh spot-spot kafe. Semenjak ini, tingkat konsumsi akan kafe meningkat. Banyak sekali tempat-tempat baru yang bersaing menawarkan bentuk dan dekorasi yang cantik, pelayanan, jam buka yang lama (bahkan) hingga dini hari, menu makanan serta minuman yang setara dengan kafe modern. Hal inilah yang mendasari sebuah kafe di Jogja menjadi ajang berkumpulnya remaja-remaja hingga berjam-jam dan tak hanya menginginkan menu yang disajikan (lagi), tetapi juga menikmati tempat serta pelayanan yang ditawarkan. Tetapi lambat laun, kebiasaan tersebut tidak lagi menjadi alasan utama seseorang datang ke sebuah kafe. Mulai ada orang yang datang sendiri hanya untuk sekedar memesan menu, melepas penat dan menikmati suasana kafe.

Lihatlah sebuah kafe yang terletak di Jalan Kaliurang Km. 7 No. 12 B, bagian utara wilayah Jogjakarta. Kafe ini berada jauh dari tempat-tempat nongkrong mainstream ataupun lingkungan kampus. Stefanie (panggil Stefie) mahasiswi lulusan diploma perhotelan Universitas Genting Inti International College di Malaysia mengawali ide untuk membuka kafe ini. Wanita yang mempelajari berbagai macam ilmu perhotelan ini kepincut dengan salah satu ilmu yaitu, Barista. Alhasil, berdirilah sebuah kafe yang diberi nama dari kreasinya sendiri yaitu KofeNoir (Kopi Hitam) Coffee Shop pada bulan Mei 2010.

Kafe ini pertama kali launching hanya memiliki 6 macam menu makanan karena pada awalnya yang ingin ditonjolkan kafe ini adalah menu kopinya. Seiring waktu, mayoritas minat konsumen kafe di Jogja adalah ke suatu bentuk penyajian Dessert. Dari sinilah, sang pemilik mengembangkan ilmunya dengan menambahkan menu makanan di kafenya. Ia membuat berbagai macam menu dessert dan mengkreasikannya sebagai menu pendamping teh dan kopi Anda. Lihat saja paket cupcake yang diberi topping cream dihiasi coklat di atasnya atau muffin bertabur choco chip yang lucu. Selain itu, masih ada Apple Pie dan Klappertart yang tak kalah menggiurkan. Menu ringan seperti French Fries, Sandwich, French Toast, Crème Brulle, ataupun berbagai macam kreasi Pancake juga menghiasi deretan menu makanan yang disediakan. Anda juga bisa mencicipi Spaghetti Bolognese, sepiring mie khas Itali yang diberi saus Bolognese lengkap dengan taburan peterselli di atasnya. Untuk minuman, KofeNoir menawarkan menu coffee (hot/ice), ice blended, milk, smoothies dan tea (hot/ice). Kopi yang ditonjolkan adalah Basic Coffee untuk semua jenis. Beberapa contoh kopi yang ditawarkan adalah Hot Cappucino, Hazelnut Latte, Double Espresso, Hot Americano dan Vietnam Drip. Minuman lain berupa kreasi minuman dingin yaitu, Ice Blended Oreo Bliss, Ice Blended Almond Nutty, Ice Cafelatte, Dilmah Blackcurrant Ice Tea, Banana Smoothies dan Lime Squash yang dijamin dapat menyegarkan tenggorokan dan pikiran Anda.

Keunggulan yang menjadikan kafe ini berbeda dari kafe lainnya adalah tempat yang sangat nyaman dan tenang. Penerangan yang dipakai pun remang-remang dengan ditemani alunan music yang slow. Pemilik memisahkan ruang untuk para perokok (smoking) di lantai 1 dan yang tidak merokok (non smoking) di lantai bawah. Oleh karena itu, konsumen yang datang pun menjadi nyaman dan tidak terganggu.

Tak usah khawatir dengan rasa yang ditawarkan dari menu-menu KofeNoir. Dijamin tidak akan mengecewakan lidah Anda. Harga yang dibanderol juga tak membuat kantong ataupun dompet kehilangan nafas. Untuk secangkir Hot Capuccino, Anda hanya perlu membayar sekitar Rp. 14.000,- atau makanannya yang berkisar Rp. 8.000,- sampai Rp. 22.500,-. Belum lagi ditambah diskon yang diberikan apabila Anda sering datang ke kafe ini. Itupun jika Anda datang sendiri, pemilik dengan senang hati memangkas biaya pajak/tax makanan Anda.

Selain deretan keunggulan tersebut, KofeNoir juga memiliki beberapa kekurangan, yaitu tempat duduk atau kursi yang kurang nyaman serta tempatnya yang terbilang kecil. Namun terlepas dari kekurangan tersebut, kesengajaan sang pemilik untuk menjadikan kafenya sebagai tempat yang tenang, dan sepi, menjadikan suasana di KofeNoir ini termasuk keunggulan yang tidak dapat disamakan dengan kafe-kafe lain. KofeNoir layak menjadi salah satu alternative kafe di Jogja yang jauh dari hingar bingar dan cocok dijadikan sebagai alternative tempat belajar, membaca, ataupun yang hanya ingin menikmati suasana kafe bergaya Eropa, Perancis.

Sumber foto : Pribadi

 
Leave a comment

Posted by on June 27, 2011 in Tempat Asik, Uncategorized

 

Tags: ,