RSS

Tak Ada Nostalgia di Ragusa Es Italia

Oleh: Anisa Titisari

Ragusa Italian Ice Cream

Sama-sama populer. Itulah jawabannya jika ditanya tentang persamaan celana cutbray vs celana pensil (maaf, saya tidak mengerti istilah yang benar apa). Jaman bergerak. Sejarah, masa lampau, ke-tradisional-an pun kian dianggap modern. Jika saat ini celana pensil merupakan hal terbaru yang populer, sebaliknya, celana cutbray akan mengarah pada kosakata vintage, barang lawas yang disulap menjadi barang baru yang paling baru. Berkedok bosan dengan kemutakhiran, muncul lah quote abg jaman sekarang, “yang old school itu yang gaul.”

Di tempat dan kota yang berbeda, sejarah bisa berbentuk dalam wujud es krim. Kepopuleran di masa lampau membuat salah satu es krim di ibukota menjadi “barang vintage” abad 2000. Bertahan dari tahun 1932, es krim Ragusa tak perlu menjual diri dalam baliho, spanduk, atau video gerak seperti pesaing-pesaingnya di era sekarang. Sejarah Ragusa selama 80 tahun merupakan dongeng cantik yang tumbuh subur di masyarakat kota Jakarta. Bukan waktu yang sebentar memang untuk sebuah kedai es krim. Eksistensinya seakan menyindir junior-juniornya yang baru mulai tumbuh.

banana split

Berkunjung ke Ragusa adalah sakramen yang harus ditunaikan jika bertandang ke Jakarta. Bangunannya masih berdiri kokoh di Jl. Veteran I No.10, di samping another landmark kota Jakarta, Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Bangunan ini adalah salah satu cabang yang tersisa dari (tadinya) 20 cabang yang kini sudah almarhum. Di sini dijadikan sebagai pusat pembuatan dan penjualan. Disambut bangunan cat berwarna putih dengan mode arsitektur Belanda, Ragusa mengajak pengunjung untuk sebentar saja menilik masa lalu. Tembok dihiasi bingkai-bingkai foto masa kejayaan Ragusa. Ruangannya memanjang dengan kursi rotan kuno dan meja bulat yang sudah dipenuhi pengunjung. Kedai es krim tradisional tanpa bahan pengawet ini rupanya masih berada di hati para penggemarnya.

Pelayan tampak sangat sibuk. Kelabakan, tak bisa menghandle seluruh pengunjung, termasuk saya yang tidak kebagian tempat. Menunggu hingga sepuluh menit (mungkin) sudah hal yang biasa bila datang ke Ragusa. Saya memilih dua kursi kosong di tengah ruangan sambil memilih aneka menu. Mereka membagi tatanan menunya berdasarkan flavour pada es krim yang terbagi menjadi empat, Regular, Premium, Mixed dan Fancy Flavour. Diluar kelompok itu, ada menu tertinggi di kedai ini, yaitu Banana Split dan Spaghetti Ice Cream.

Selama kurang lebih 5 menit menunggu pesanan, saya merasakan hawa panas yang luar biasa menyengat, mengganggu kenyamanan saya. Bangunan ini tidak berpendingin, hanya mengandalkan bantuan kipas angin dan atap bangunan yang tinggi guna mengontrol udara. Beberapa saat setelah pesanan datang, ada perasaan aneh. Es krim yang tersaji di mangkuk-mangkuk kecil itu ternyata juga tak tahan. Scoop Regular Flavour yang saya pesan mencair dalam waktu satu menit saja sebelum sempat saya cicipi. Ada tiga menu yang saya pesan, Triple Scoop Regular Flavour, Vanilla, Strawberry, dan Nougat. Tutti Fruity serta Banana Split. Dengan terburu-buru saya menghabiskan semuanya, takut mencair dan saya tak dapat apa-apa. Seperti sedang makan es krim di tempat sauna.

tutty fruity

Dari ketiga menu yang saya cicipi (walau saya terburu-buru), Tutti Fruity adalah menu yang paling memegang kendali. Berbentuk persegi panjang, padat, dan terdiri dari tiga lapis rasa, strawberry, coklat dan vanila, serta dilapisi dengan alumunium foil yang berguna untuk mempertahankan temperatur es. Rasa Tutti Fruity yang didapat berasal dari taburan sukade yang ditanamkan ke es krim. Di kombinasikan dengan es krim dingin nan lembut. Lain halnya dengan scoop reguler, basic es krim di tempat ini. Mungkin standar lidah saya yang tidak familiar, tetapi es krim yang dibuat dengan tidak memakai butter milk ini tidak meninggalkan kesan apik. Tanpa dekorasi apa-apa, triple scoop regular flavour ini meleleh begitu saja di mulut saya. Sama halnya dengan Banana Split. Tak ada yang membuat menu ini menjadi berbeda walau dekorasi luarnya tampak sangat menggugah. Tiga scoop es krim yang bertabur sukade warna-warni, kacang, dan lelehan coklat. Pisang Ambonnya bersembunyi di balik tumpukan es.

Selesai dengan urusan mangkuk es, saya melihat sekeliling, dari meja ke meja. Mereka tak hanya memesan es krim. Ada sekitar empat sampai lima pedagang kaki lima yang ngetem di depan Ragusa, menjajakan dagangannya ke dalam kedai, macam bakmi Juhi, Asinan, Otak-Otak, bahkan Sate yang “terpaksa” di kombinasikan dengan es krim bercita rasa Itali. Keorisinilan sejarah yang sengaja dipertahankan Ragusa mendadak tak berarti apa-apa. Cuplikan-cuplikan masa kejayaan yang tertata apik di tembok ruangan jadi sebatas wacana. Ke-vintage-an pun cuma dalam bentuk dekorasi bangunan. Masa lalu yang ditawarkan hanyalah usaha untuk bertahan semata. Tak ada nostalgia. Sayang sekali. Tetapi, mungkin nostalgia itu didapat jika yang datang berkunjung adalah kakekmu. Mungkin.

 

2 responses to “Tak Ada Nostalgia di Ragusa Es Italia

  1. sumandro

    October 26, 2013 at 5:47 pm

    banyak yang komplain tentang pelayanan..

     
  2. Fatika

    December 2, 2013 at 9:52 pm

    wenakknyaa..

    visit me

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: